Sepak Bola Membawa Masalah


Kemarin, sekitar pukul 5 sore di Stadion Utama Gelora Bung Karno (Jakarta) berlangsung pertandingan sepak bola antara tim kesebelasan Indonesia melawan kesebelasan Bahrain. Hasilnya, Tim Indonesia memenangi pertandingan dengan skor 2-1. Hebat! Hebat!

Namun, di balik kehebatan tersebut terbetik satu pertanyaan besar di benak saya. Bayangkan, pertandingan dimulai pukul 5 sore dan berakhir pukul 7 malam. Sebelum pertandingan dimulai, tentu pemain harus melakukan pemanasan dan pengarahan dari pelatihnya. Itu bisa dikira-kira dilakukan sekitar 2 jam sebelum pertandingan, kurang lebih pukul 15.00 WIB.

Sekarang, mulai masuk permasalahan nih.

 

Shalat ashar di DKI Jakarta dan sekitarnya kira-kira mulai masuk waktunya pukul 15.20 WIB. Padahal pada pukul 15.00 sampai 17.00 WIB, pemain melakukan pemanasan dan pelatih/asistennya memberikan pengarahannya. Lalu, kapan ya mereka shalat ashar-nya?

Kemudian, pada pukul 17.00 sampai 19.oo WIB mereka asyik bermain sepak bola demi membela nama harum bangsa. Padahal adzan maghrib dikumandangkan sekitar pukul 17.55 WIB, berarti pas seru-serunya mereka nendang bola nih. Lalu, kapan ya mereka shalat maghrib-nya?

Kemudian, adzan isya’ dikumandangkan sekitar pukul 19.08, padahal ketika itu pemain masih berada di lapangan (mungkin lho ya) dan para kru sepak bola masih di tribun. Dan mungkin baru berbenah diri meninggalkan lapangan sekitar satu jam kemudian. Lalu, kapan ya mereka shalat isya’-nya? Kalau yang ini sih semua bisa jawab… isya’ itu waktunya panjang, jadi shalatnya nanti. Hahaha….

Eit, masih ada yang tertinggal….. penonton! Ya, penontonnya ada pula yang sudah nongkrongin stadion sejak siang hari, biar dapet tempat duduk kali! Lalu, kapan mereka ya shalat dhuhur, ashar, maghrib, dan isya’?

Nah, fenomena seperti ini sering terjadi dan tidak hanya pada perhelatan atau acara-acara nasional/internasional saja, tetapi juga sering terjadi pada pertandingan-pertandingan olahraga di lingkungan sekitar kita.  Entah itu sepak bola, voli, badminton, entah “olahraga” catur. Masya Allah.

Ketahuilah bersama bahwa shalat adalah tiang agama. Shalat adalah rukun Islam yang kedua setelah syahadat. Shalat adalah yang menjadi pembeda antara muslim dan kafir. Bahkan, Allah ta’ala menyuruh untuk menjaganya dan menunaikannya dengan berjamaah. Allah mengabarkan bahwa sikap meremehkannya dan bermalas-malas menunaikannya termasuk sifat orang munafik. Allah ta’ala mengatakan dalam Kitab-Nya yang agung: “Jagalah shalat-shalat dan shalat wustha. Dan berdirilah (kalian semua) karena Allah (dalam shalat) dengan khusyu’ ” (Al Baqarah: 238)

Bagaimana seseorang akan dianggap menjaga shalat-shalat tersebut dan mengagungkannya, bila kenyataannya dia tidak mau menunaikannya bersama saudara-saudaranya dan meremehkannya. Allah ta’ala berfirman: “Dan dirikanlah shalat dan tunaikan zakat serta ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’.” (Al Baqarah:43). Wallahu musta’an.

Jadi, hebat di mata manusia ternyata belum tentu hebat dari sisi syari’at. Justru, pelanggaran terhadap syari’at lebih besar akibatnya dibanding dengan urusan dunia. Kelak di yaumul akhir, semua akan dimintai pertanggungjawabannya. Wahai Saudaraku kaum muslimin, takutlah kepada Allah dan siksanya yang maha dahsyat di neraka kelak!!!! Wallahu a’lam bish shawab.

  

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: