Memendekkan Khutbah dan Mengisyaratkan Telunjuk ketika Berdoa


Memendekkan Khutbah dan Mengisyaratkan Telunjuk ketika Berdoa

 

Ditulis oleh Al Ustadz Yusuf Al Atsary

Tidak diragukan lagi bahwa khutbah Jumat tidaklah sama dengan khutbah-khutbah lainnya, di mana khutbah Jumat tidak boleh lepas dari stipulasinya, baik itu syarat sahnya ataukah sunnah-sunnahnya. Satu contoh yang paling mudah dan diketahui secara umum misalnya, khutbah pada sholat Jumat ada dua kali khutbah dan didahulukan sebelum sholat. Jika khutbahnya diakhirkan atau khutbahnya hanya satu kali atau bahkan tidak ada khutbah sama sekali, maka menjadi tidak sah.

Nah, berkenaan dengan panjang pendeknya, lama dan sebentarnya khutbah, ini juga adalah perkara yang disinggung dalam khutbah Jumat meskipun tidak termasuk syarat sahnya. Di dalam Shohih Muslim dari sahabat Ammaar bin Yasir, Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya panjang/lama sholatnya seseorang dan pendek khutbahnya adalah tanda kefaqihannya.”

 

Oleh karena itu, lebih utama bagi seorang khotib memendekkan khutbahnya, dan tentu saja hal ini memberikan beberapa manfaat. Di antara manfaat itu adalah pertama: tidak mendatangkan kejenuhan bagi mustami’in, sebab bila khutbah panjang, apalagi dengan penyampaian yang tidak menyentuh hati dan lain sebagainya, akan menimbulkan kelelahan dan kejenuhan. Kedua: dengan khutbah yang pendek, pendengar lebih mampu menyerap apa yang disampaikan, berbeda jika khutbahnya panjang bisa menyebabkan ingat awalnya lupa akhirnya, ingat akhirnya lupa awalnya. Dengan demikian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya panjang sholat seseorang dan pendek khutbahnya adalah tanda kefaqihannya.” Sebab sang khotib senantiasa memperhatikan keadaan mustami’in, namun kadang-kadang juga keadaan menuntut sang khotib untuk memanjangkan khutbah. Jadi, apabila memanjangkannya karena tuntutan keadaan, tidaklah hal ini mengeluarkannya dari kefaqihan, karena toh perkara panjang dan pendek khutbah adalah perkara nisbi, dan telah ada dari Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkhutbah kadang-kadang dengan surat “Qaaf”, sedangkan surat “Qaaf” jika dibaca dengan tartil dan berhenti pada tiap ayat, maka menjadi panjang. Berkata Ibnul Qoyyim dalam Zaadul Ma’aad, “Beliau -Rosulullah, pent.- kadang-kadang memendekkan khutbah dan kadang memanjangkannya sesuai kebutuhan manusia, dan khutbahnya beliau yang sifatnya insidental lebih panjang daripada khutbahnya yang bersifat rutin.”

Para pembaca -semoga dirahmati Allah- lain halnya dengan keadaan khotib ketika berdo’a saat khutbah, mayoritas para khotib amat sangat jarang memperhatikan masalah ini, terbukti dengan banyaknya para khotib yang mengangkat kedua tangan ketika berdo’a, bahkan sebagiannya menganggap ini amalan sunnah hingga mempertahankannya karena keukeuh. Tidak dipungkiri bahwa asal dalam berdo’a adalah dengan mengangkat kedua tangan, tetapi masalahnya sekarang dalam khutbah Jumat yang keadaannya sebagaimana yang telah disinggung di atas, dan tentunya dominan kaitannya dengan masalah ibadah, bukankah ibadah itu tidak disyariatkan kecuali dengan apa yang telah dibawa dan dicontohkan oleh Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?!!, oleh karena itu tidak heran jika para sahabat mengingkari seseorang yang berkhutbah dan mengangkat kedua tangannya saat berdoa, diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shohihnya “Kitabul Jum’ah.” Dari Husein bin AbdurRohman dari Ammaaroh bin Ruaibah berkata: Ia telah melihat Bisyr bin Marwan di atas mimbar dan mengangkat kedua tangannya, maka berkata Ammaaroh, “Semoga Allah menjelekkan kedua tangan ini! Sungguh aku telah melihat Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ia tidak menambah kecuali berdo’a dengan tangan begini, lalu ia mengisyaratkan jari telunjuknya.” Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah seperti dalam Al Ikhtiyaarot halaman 80, “Dan makruh atas imam/khotib mengangkat kedua tangan saat berdoa dalam khutbah, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau hanya mengisyaratkan jarinya bila berdoa, adapun saat istisqo beliau mengangkat kedua tangannya, di atas mimbar.”

Wal akhir, semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa melimpahkan kasih sayangnya kepada kita dan tambahan ilmu, kemudian di hari yang paling baik ini mari kita warnai dengan amalan-amalan yang baik pula, wal ilmu indallah.

 

 

Bagian di Akhirat bagi Orang yang Bertawassul

 

 

Tanya: Assalamu ‘alaikum wa rohmatullahi wa barokaatuh. Saya mau tanya tentang tawasul yang disyari’atkan, apakah jika seseorang tidak melakukan tawassul dengan alasan takut tidak mendapatkan bagian di akhirat sebagaimana hadits shohih dari Imam Ahmad bahwa Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Beri kabar kepada umat ini bahwa mereka akan mendapatkan pujian, agama, kemuliaan, pertolongan, dan kekokohan di bumi. Maka barangsiapa di antara mereka beramal akhirat untuk mendapatkan dunia, maka dia tidak mendapatkan bagian akhirat.”

Lalu apakah ia harus bersabar jika mengalami ujian sebagai berikut: jika di sebuah keluarga terdapat seorang anak yang (misal: kurang berbakti), apakah anak lainnya dapat bertawassul dengan amalannya (misal: birrul walidain atau berbakti kepada kedua orang tuanya) agar anak yang tidak berbakti tersebut menjadi anak yang sholih?

Demikian email dari saya kirimkan atas perhatian dan jawabannya saya ucapkan jazaakallaahu khayran katsiiran dan semoga ustadz dan bersama orang-orang yang senantiasa menampakkan kebenaran tetap berada dalam lindungan Allah subhanahu wa ta’ala, sehingga tetap tampak yang haq tersebut berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah.
Wassalaamu ‘alaikum wa rohmatullahi wa barokaatuh.
(Dadan Gandara (dad…@yahoo.com))

Jawab: Wa ‘alaikum salam wa rohmatullahi wa barokaatuh, amiin yaa Mujibassailin… dan semoga Allah subhanahu wa ta’ala juga menjagamu saudara Dadan. Berkenaan dengan pertanyaan saudara, maka ketahuilah bahwa siapa saja yang bertawassul mendekatkan diri kepada Allah -tentunya dengan tawassul yang disyariatkan- contohnya dalam hal ini dengan satu amalan sholih, tidak perlu khawatir kalau amalan sholihnya itu tidak mendapatkan bagiannya lagi di akhirat, sebab Allah telah berfirman, “Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): ‘Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain…'” (QS Ali Imran: 195). “Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikit.” (QS An Nisaa: 124). Allah juga berfirman, “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS An Nahl: 97). “Dan Dia memperkenankan (do’a) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang saleh dan menambah (pahala) kepada mereka dari karuniaNya…” (QS Asy Syuuro: 26).

Adapun hadits riwayat Ahmad yang saudara kemukakan adalah memang hadits yang shohih, tetapi tidak sedikitpun berkaitan dengan masalah tawassul dengan amalan sholih, perhatikanlah sabdanya Rosulullah, “… Maka barangsiapa di antara mereka beramal akhirat untuk mendapatkan dunia, maka dia tidak mendapatkan bagian di akhirat.” Ini menggambarkan tentang nilai eksistensi ikhlas dalam amalan, jadi sekalipun sifat amalan itu baik bila tujuannya untuk mendapatkan kesenangan dunia, tidak ikhlas karena mengharap keridhoan Allah semata, maka sedikitpun amalan itu tidak ada bagiannya di akhirat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan kami tambahkan keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagian pun di akhirat.” (QS Asy Syuuro: 20). Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, Ahmad, dan Nasaa’i dari sahabat Abu Hurairoh radhiyallahu ‘anhu dikisahkan bahwa ada tiga orang yang beramal dengan amalan akhirat, pertama: yaitu berperang di jalan Allah hingga meninggal dunia, kedua: yang mencari ilmu dan mengajarkannya, dan yang ketiga: yang gemar berinfaq dan bersedekah. Tetapi ketiga orang itu adalah orang-orang yang pertama kali diadili oleh Allah dan kemudian dilemparkan ke dalam neraka yang menyebabkan mereka demikian adalah karena mereka beramal untuk tujuan dunia tidak ada sedikitpun keikhlasan karena Allah, yang pertama agar dikatakan pahlawan, gagah berani, yang kedua agar dibilang seorang alim terkenal, sedangkan yang ketiga agar semua orang menyebutnya seorang yang paling dermawan.

Oleh karena itu, saudara Dadan ingat bahwa “Amalan sholih terwujud dengan niat yang sholih, tetapi niat yang sholih tidak bisa mewujudkan amalan yang mungkar menjadi amalan baik, amalan bid’ah menjadi amalan yang sunnah”. Wal hasil boleh bertawassul, tetapi tentunya tawassul yang disyariatkan. Wal ‘ilmu ‘indallah.

 

 

Sumber: Buletin Al Wala’ Wal Bara’ Edisi ke-25 Tahun ke-1 / 06 Juni 2003 M / 05 Rabi’uts Tsani 1424 H

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: