Poligami, Sunnah yang Diabaikan


Catatan Pribadi……..

———————————————-

Kemarin dalam perjalanan naik bus sepulang dari taklim di Masjid Al I’tisham, saya terkesima dengan suara tukang koran yang lantang, “Koran seribu, Media seribu, Aa Gym nikah lagi…! Aa Gym nikah lagi..!” Begitulah seterusnya si abang menjajakan korannya. Dalam hati saya berkata, uh betapa hebohnya “dai” satu ini sampai-sampai gaungnya seperti artis, tak jauh dari gosip dan gosip. Wal’iyadzubillah. Hari berikutnya, ketika membuka wordpress untuk sekadar menengok artikel, ada judul mengusik perhatian “Aa Gym aja poligami” atau “Gosipin Poligaminya Aa gym”. Begitu pun di situs-situs berita metropolitan, begitu saya buka isinya ya cerita ibu-ibu yang nggak nerima poligaminya Aa Gym. Hemmm, memang “dai” gaul ini idola para ibu.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Ini adalah musibah besar bagi kaum muslimin. Kita, kebanyakan kaum muslimin betapa jauhnya dari agama dan bimbingan para ulama ahlus sunnah wal jamaah sehingga ketika ada sunnah diterapkan, masyarakat menjadi asing sehingga menganggap sunnah tersebut seperti bid’ah dan bid’ah dianggap sunnah dan yang mengamalkan sunnah tersebut dicela habis seakan-akan orang tersebut telah berbuat dosa besar, syirik atau dosa besar lainnya. Tepatlah apa yang Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam sabdakan:

إنَّ اْلإِسْلاَمَ بَدَأَ غَرِيْبًا وَسَيَعُوْدُ غَرِيْبًا كَمَا بَدَأَ، فَطُوْبَى لِلْغُرَبَاءِ. (رواه مسلم

Sesungguhnya pada awalnya Islam itu asing dan akan kembali asing seperti awalnya maka beruntunglah orang-orang yang asing. (HR. Muslim)

Islam akan kembali asing sehingga manusia tidak kenal lagi yang namanya sunnah. Saya tidak membela si Aa, apalagi mengamini dia. Tidak sama sekali, saya hanya menghormati kebenaran dan menjunjung tinggi haq. Justru saya ingin memberi nasihat kepada Aa, kembalilah kepada manhaj salaf, engkau masih bernapas sehingga masih bisa bertaubat atas segala dosa dan kesalahan manhaj dan agamamu. Betapa banyak umat yang engkau sesatkan karena kebodohanmu, ilmumu belum pantas untuk berdakwah. Karena dakwah ini hanyalah diemban oleh orang-orang yang berilmu dan bermanhaj yang lurus sehingga menjadi luruslah kaum muslimin ini karena dakwah, sedangkan engkau hanyalah seorang jahil yang sok mengerti agama. Betapa banyak keanehan-keanehan perilakumu yang engkau lakukan karena kejahilanmu. Berdoa bersama kaum kafir. Memanggil artis dan memampang istrimu di panggung untuk bercerita tentang keluargamu. Dan seabrek lagi keganjilan-keganjilan agamamu. Jika engkau bukan dai, atau engkau hanyalah orang awam dusun, mungkin tidak saya nukilkan di sini, tetapi engkau dijadikan panutan orang, engkau “menyebarkan” agama, tetapi sungguh apa yang engkau sebarkan bukan agama yang datang dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, jauh sekali dari contoh para salaf. Allahul musta’an. Sadarlah dan taubatlah wahai Aa karena Allah mengampuni hambanya yang benar-benar bertaubat sehingga engkau selamat dan tidak termasuk dai su’, yaitu dai sesat penyeret umat ke dalam neraka jahannam. Takutlah akan ancaman Allah dalam firman-Nya:

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ
وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas baginya kebenaran dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An-Nisa: 115)

Kepada seluruh kaum muslimin dan juga saya pribadi, mari belajar agama yang benar dan murni, kemudian mengamalkannya semampu kita, mencontoh seperti apa yang telah dicontohkan dan diamalkan dengan baik sekali oleh para shahabat radhiallahu ‘anhu sehingga kita terhindar dari kesesatan di dunia dan akhirat.

عَنْ الْعِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَّة رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَ سُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ مِنْ بَعْدِي تَمَسَّكُوْا بِهَا وَ عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَ إِيَّاكُمْ وَ مُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Dari Al-Irbadh Bin Sariyyah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berpegang teguhlah kalian dengan sunnahku dan sunnah Khulafa`ur Rasyidin yang mendapat petunjuk setelahku. Pegang erat-erat sunnah itu, gigitlah sunnah itu dengan gigi-gigi geraham dan hati-hatilah kalian dengan perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu adalah sesat.” (HR. Tirmidzi 5/44 (2676): hadits hasan shahih, dan dishahihkan pula oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim, disepakati oleh Imam Dzahabi)

Wahai dai kondang pujaan para ibu, mungkin dengan kisahmu sekarang mulailah berkurang simpati ibu-ibu kepadamu. Mereka yang dahulu memuja, simpati, dan “trenyuh” bahkan sampai menangis ketika mendengarkan ceramahmu, sekarang mungkin mulai membenci, menolak, dan antipati kepadamu. Mengapa bisa demikian? Jawabannya adalah karena engkau tidak mengajarkan kepada mereka agama Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam. Engkau tidak mendidik umat ini dengan tauhid dan akidah yang benar. Engkau tidak mengajari umat untuk menegakkan sunnah dan menjauhi bid’ah. Engkau tidak mengajarkan kepada kaum muslimin bagaimana al wala’ wal bara’ yang benar. Masya Allah, bagaimana engkau akan mengajari umat dengan tauhid dan akidah yang benar, sedangkan dirimu sendiri masih kacau dalam memahami agama ini. Engkau belum paham apa itu manhaj ahlus sunnah wal jamaah.

Wahai dai “manajemen qalbu”, cepatlah sadar dan kembalilah kepada kitabullah dan sunnah sesuai dengan pemahaman salafus shaleh. Berhentilah engkau dari kebid’ahanmu. Berbahaya sekali ya Aa! Bukankah kita tahu bahwa ahlul bid’ah itu lebih keras siksanya daripada pelaku maksiat? Asy Syaikh Shalih Fauzan bin Abdullah Fauzan ketika ditanya mana yang lebih keras siksanya orang yang berbuat maksiat atau ahlul bid’ah? Beliau menjawab, “Mubtadi’ lebih keras adzabnya karena bid’ah lebih berbahaya daripada maksiat, bid’ah lebih dicintai syaithan daripada maksiat karena orang yang berbuat maksiat kadang bertaubat. Adapun mubtadi’ jarang sekali kita temukan mereka bertaubat karena dia menyangka bahwa dirinya di atas kebenaran, berbeda dengan orang yang berbuat maksiat. Adapun mubtadi’ dia menyangka bahwa dirinya adalah orang yang taat dan tengah berada di atas ketaatan, karena itulah maka bid’ah -wal ‘iyadzubillah- lebih jelek dari maksiat. Oleh karena itu pula, salafus shalih mentahdzir (memperingatkan) dan melarang duduk dengan ahlul bid’ah, karena mereka bisa mempengaruhi teman duduknya dan bahaya mereka sangat besar. Oleh karena itulah, tidak diragukan lagi bahwa bid’ah lebih jelek dari maksiat, dan bahaya ahlul bid’ah lebih besar atas manusia daripada bahayanya orang berbuat maksiat. (Al Ajwibah Al Mufidah).

(Bersambung insya Allah….)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: