Category Archives: Fikih

Salat 2 Rakaat di Rumah Setelah Salat Ied


Bismillah, alhamdulillah wash shalatu wassalam ‘ala rasulillah wa ashabih waman walaah, wa ba’du:

Ada sebuah sunnah yang mungkin sekarang banyak ditinggalkan kaum muslimin, yaitu sunnah shalat 2 rakaat di rumah setelah shalat id, baik idul fithri atau idul adha.

عن أبي سعيد الخدري قال:  كان رسول الله -صلى الله عليه وسلم- لا يُصلّي قبل العيد شيئا، فإذا رجع إلى منزله صَلّى ركعتين
الحديث أخرجه ابن ماجه وأحمد وابن خزيمة والحاكم والسيوطي.
و صححه الحاكم ووافقه الذهبي، وحسنه ابن حجر في بلوغ المرام والألباني في  إرواء الغليل 3/ 100 والجامع الصغير وصحيح ابن ماجه -رحمهم الله وغفر لهم

Dari Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak shalat sebelum shalat id sama sekali. Kemudian bila telah kembali ke rumahnya, beliau shalat 2 rakaat.
(HR. Ibnu Majah, Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Al-Hakim dan As-Suyuthi. Dishahihkan oleh Al-Hakim dan disepakati Adz-Dzahabi. Dihasankan oleh Ibnu Hajar dalam Bulughul Maram dan Syaikh Al-Albani di Irwaul Ghalil 3/100, Al-Jami’ Ash-Shaghir dan Shahih Ibnu Majah. Rahimahumullah.) Continue reading →

Bagaimana Melakukan Manasik Haji? (Bagian 1)


Bagian pertama

Saudaraku yang mulia, pada edisi yang lalu telah diterangkan bahwa Haji ada tiga macam: Tamattu’, Qiran dan Ifrad. Demikian pula telah diterangkan 2 jenis miqat, baik zamani ataupun makani. Namun, karena mayoritas jama’ah haji Indonesia berhaji Tamattu’, maka bahasan kali ini terfokus pada Haji ini. Lebih-lebih Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah berangan-angan untuk melakukan haji ini bila diberi umur pada tahun yang akan datang.

Saudaraku, bila anda telah berada di miqat maka mandilah, dan pakailah wewangian jika memungkinkan. Kemudian pakailah baju ihram yang terdiri dari dua helai, untuk bagian bawah dan atas tubuh, adapun wanita tetap mengenakan pakaiannya yang sesuai dengan batasan-batasan syar’i. Kemudian berniat ihramlah untuk umrah dengan mengatakan:

لَبَّيْكَ عُمْرَةً

Kemudian dilanjutkan dengan:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ و النِّعْمَةَ لَكَ وَ الْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ

“Ku sambut panggilan-Mu Ya Allah, ku sambut panggilan-Mu tiada sekutu bagi-Mu, ku sambut panggilan-Mu, sesungguhnya segala pujian, nikmat dan kerajaan hanyalah milik-Mu tiada sekutu bagi-Mu.” Continue reading →

Larangan bagi Orang yang Berkurban


Bismillah. Hari ini adalah hari raya Idul Adha bagi kaum muslimin yang Ada di Arab Saudi dan sekitarnya. Kita, negara Indonesia umumnya melakukan salat Idul Adha besok, Rabu, 17 November 2010. Setelah salat Idul Adha kita disyariatkan untuk menyembelih hewan kurban, berupa kambing atau sapi atau kerbau, tapi tidak boleh ayam. Bagi yang akan berkurban, ada aturan-aturan yang harus dipatuhi.

Para pembaca yang budiman, berikut ini fatwa-fatwa seputar Idul Kurban yang penting diketahui oleh kaum muslimin, terkhusus bagi saudara-saudara yang hendak berkurban. Fatwa-fatwa tersebut kami sajikan dalam bentuk soal-jawab agar lebih menyentuh masing-masing permasalahan. Wallahul muwaffiq. Continue reading →

Aku Mendengar Panggilan untuk Menghadap-Mu ya Allah, Namun Aku Tidak Akan Memenuhinya


Bismillah.

Allahu Akbar Allahu Akbar 2x
Asyhadu allaa ilaha illallah 2x
Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah 2x
Hayya ‘alash sholah 2x
Hayya ‘alal falah 2x
Allahu Akbar Allahu Akbar
Laa ilaha illallah

Kumandang azan begitu jelas terdengar, tetapi tubuh tiada bergeming melangkah menghampirinya. Ada yang masih bermain dengan gitar, ada yang masih asyik ngrobrol dengan teman-temannya, ada juga yang justru mengisap rokok dengan santai, dan berbagai aktivitas yang tidak syar’i lainnya. Itulah pemandangan sehari-hari yang kita saksikan di sekitar kita. Azan adalah panggilan shalat. Namun, seolah sebagian kaum muslimin berkta, ”Aku mendengar panggilan untuk menghadap-Mu ya Allah, tapi aku tidak akan memenuhinya.” Continue reading →

Mihrab dan Hubungannya dengan Bid’ah


Bismillah. Pembaca yang budiman, pengetahuan agama itu luas sekali dan kita diwajibkan untuk mencari ilmu pengetahuan agama tersebut sampai akhir hayat, sebagaimana yang difirmankan Allah dalam ayat-ayat-Nya yang agung dan hadis Rasul yang mulia.

Salah satu ilmu yang kita harus pahami adalah masalah bid’ah, yakni sesuatu hal yang tidak ada contohnya dari Nabi kita yang mulia shallallahu ‘alaihi wasallam. Mengetahui bid’ah tujuannya adalah agar kita terhidar darinya. Karena bid’ah ini adalah awal mula kesyirikan. Sungguh mengerikan.

Yang namanya bid’ah memang tidak pandang bulu. Banyak sudah yang menjadi korbannya, besar atau kecil, miskin atau kaya, kurus atau gemuk, dan lain sebagainya. Bid’ah memang bahaya karena pelakunya menganggapnya baik. Berbeda dengan para pelaku maksiat karena mereka mengetahui bahwa perbuatannya itu dosa. Continue reading →

Aib-aib dalam Pernikahan


Ada satu kasus, bila seorang pria menikahi seorang wanita, lalu ia menjumpai istrinya tersebut ternyata mempunyai aib/cacat, ia pun kemudian menjauhi istrinya dan berencana membatalkan pernikahannya. Namun, kemudian ia lupa dan menggauli istrinya. Maka apakah menjadi batal hak pilihannya itu?

Maka Syaikh Abdurrahman As Sa’di menjawab, “Para ulama mazhab (Hambali) telah menyebutkan bahwa hak pilih untuk membatalkan pernikahannya karena adanya aib/cacat pada diri istri menjadi gugur dengan adanya hal-hal yang menunjukkan adanya keridaan suami berupa terjadinya jima’/persetubuhan dalam keadaan suami telah mengetahui cacat istrinya. Para ulama itu tidak membedakan dalam hal ini antara jima’ yang terjadi secara sengaja atau secara tidak disadari. Terhadap keadaan seperti ini, maka tidak ada hak pilih lagi bagi suami karena ia telah melakukan jima’ dalam keadaan mengetahui adanya cacat pada diri istrinya. (Kitab Al Majmu’ah  Al Kamilah li Muallafat karya Syaikh Abdurrahman As Sa’di, halaman 356/7)

Aturan-aturan Seputar Memelihara Anjing


Anjing merupakan binatang ciptaaan Allah. Dia mempunyai bentuk tubuh seperti kucing, macan, atau serigala. Anjing banyak dijumpai di sekitar kita, bahkan banyak orang yang sengaja memelihara anjing baik untuk penjagaan maupun untuk hobi atau kesayangan. Saya sendiri jijik melihat anjing, apalagi kalau dia lagi menggonggong, ngeri juga.. hehehe. Pada kesempatan ini, saya mau share kepada pembaca tentang hukum seputar memelihara anjing, artinya ada aturan-aturan seputar memelihara anjing yang harus diperhatikan dan diketahui oleh kita semua, terutama oleh para penyuka (baca= pemelihara) binatang anjing.

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma dia berkata: Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ اقْتَنَى كَلْبًا إِلَّا كَلْبًا ضَارِيًا لِصَيْدٍ أَوْ كَلْبَ مَاشِيَةٍ فَإِنَّهُ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِهِ كُلَّ يَوْمٍ قِيرَاطَانِ
“Barangsiapa memelihara anjing selain anjing untuk berburu atau anjing untuk menjaga binatang ternak, maka pahalanya akan berkurang dua qirath setiap harinya.” (HR. Al-Bukhari no. 5059 dan Muslim no. 2940)
Satu qirath banyaknya sebesar gunung uhud. Continue reading →

Hukum Mencabut Gigi Ketika Puasa


Suatu saat saya mengalami sakit gigi yang luar biasa, sedangkan hari itu saya sedang puasa Ramadan. Gigi harus dicabut karena lubangnya sudah besar dan tidak mungkin lagi ditambal. Pertanyaannya apakah hukumnya mencabut gigi ketika puasa yang menyebabkan air liur terdapat darah bekas gigi yang dicabut?

Maka Syaikh Muqbil menjawab pertanyaan tersebut sebagai berikut: Continue reading →

Fatwa Ulama: Berdoa Bersama-sama Setelah Shalat Bid’ah Hukumnya


Seringnya kita saksikan setelah salat berjamaah, imam mempimpin doa bersama yang ditujukan untuk kebaikan kaum muslimin dan diamini oleh para jamaah, selanjutnya di akhiri dengan mengirim bacaan Al Fatihah. Kita mungkin tidak sadar jika perbuatan semacam ini tidak ada dasarnya dari agama. Apa jawaban ulama ketika ditanya mengenai hal ini? Berikut ini tanya jawab selengkapnya. Continue reading →

Wanita Dilarang Bepergian Jauh Tanpa Disertai Mahramnya (Penting Sob Harus Dibaca)


Suatu hari di kantor saya akan diadakan piknik ke puncak yang diikuti oleh seluruh karyawan. Sebelumnya, si bos mengumpulkan staf untuk rapat dalam rangka bagi-bagi tugas kepanitiaan. Singkat cerita, di dalam rapat sempat ada tanya jawab. Nah, saya gunakan sesi tanya jawab itu untuk menanyakan sikap “si bos” mengenai keikutsertaan teman-teman wanita dalam acara piknik tersebut. Yang saya persoalkan adalah bahwa, sepengetahuan saya, wanita itu dilarang melakukan safar (bepergian jauh), kecuali bersama mahramnya. Mengapa saya tanyakan ini ke si bos? Karena saya tahu bahwa si bos ini termasuk orang yang lama berkecimpung dalam aktivitas keislaman. Lalu, apa jawaban si bos ini?  Tidak masalah staf wanita yang mau ikut, mereka aman-aman saja. Toh teman-teman wanita adalah mahram bagi teman wanita lainnya. Saya kaget juga mendengar jawaban beliau seperti itu. Saya pikir orang ini nggak paham definisi mahram. Baiklah, itu adalah pengalaman yang saya ingat ketika mau menulis masalah hukum safarnya wanita. Continue reading →