Masih Membahas Masalah-Masalah Sepele


Abduh Zulfidar Akaha yang pada Catatan I–nya dalam BAUS menyoal Al-Ustadz Luqman karena ia anggap telah mengabaikan kemanusian seorang manusia, ternyata dia sendiri dalam BAUS -nya ini pula tidak melewatkan untuk mengungkit masalah-masalah sepele yang merupakan kesalahan manusiawi. Seperti biasa, dia melakukannya dengan caranya yang ‘halus’.
Contohnya : Pada halaman 19. Abduh ZA mengomentari perkataan Al-Ustadz Luqman dalam MDMTK :

“Terkait dengan apa yang telah kami jelaskan di atas, beberapa bulan yang lalu telah terbit … “

Dengan kejelian dan ketelitiannya yang tinggi 1), saudara Abduh tidak melewatkan kalimat : “beberapa bulan yang lalu”. Kalimat yang ia anggap salah tersebut langsung dikomentari oleh Abduh dengan catatan kaki no. 26 sebagai berikut :

“Al-Ustadz Luqman mengatakan, “ … beberapa bulan yang lalu.” Padahal, cetakan pertama buku STSK terbit bulan Mei 2006. Sedangkan cetakan pertama buku MDMTK ini terbit bulan April 2007. Jika waktu setahun itu adalah dari bulan Januari hingga Desember, maka bulan Mei 2006 hingga April 2007 adalah genap setahun. Jadi, bukan beberapa bulan sebagaimana dikatakan oleh Al Ustadz Luqman.“

kemudian Abduh melanjutkan :

“Namun ini adalah bukan suatu kesalahan. Kalaupun ini adalah sebuah kesalahan, maka ini adalah kesalahan yang sangat kecil lagi tidak berarti.”

Orang yang berakal sehat tentu akan menilai : Kalau memang kecil lagi tidak berarti, kenapa dikomentari dan ditampilkan kepada pembaca? Secara sadar ataupun tidak, cara saudara Abduh yang seperti ini bertentangan dengan ucapannya sendiri, karena dengan demikian berarti ia telah menjadikan perkara ini besar.2 )

Kemudian saudara Abduh melanjutkan komentarnya dengan ucapan yang tidak nyambung :

“Kami yakin Al Ustadz Luqman tidak berniat mengelabui pembaca ataupun berdusta dalam hal ini. “

Jelas tidak nyambung. Apa kaitannya perkataan Al-Ustadz Luqman “… beberapa bulan yang lalu.” yang ia anggap salah itu dengan niat mengelabui pembaca atau berdusta? Memangnya ada orang yang mengatakan bahwa Al-Ustadz Luqman berniat mengelabui pembaca atau berdusta dalam hal ini?

Ma’af ketika saya membaca komentar Abduh ZA pada catatan kaki no. 26, saya terheran-heran dengan ucapan Abduh ZA sendiri tepat 5 atau 6 baris di atasnya :

“… atau lebih tepatnya kepada buku STSK yang kami tulis tahun lalu.”
[BAUS, hal. 19]

Padahal pada kata pengantar penulis buku BAUS tertulis 15 Februari 2008, sementara pada kata pengantar STSK tertulis 22 Mei 2006. Berapa jaraknya? Benarkah kalau dikatakan, “buku STSK yang kami tulis tahun lalu.”?

* * *

Contoh lain lagi, dalam catatan kaki no. 574 hal. 216, saudara Abduh mengatakan :

“MDMTK, hlm 140. Al Ustadz Luqman menyebutkan sumber nukilannya pada halaman 141, “Al-Ajwibatul Mufidah ‘an As`ilatil Manahijil Jadidah, Jamaluddin bin Furaihan Al-Haritsi, hal. 13-14 dan hal. 28-38.” Mohon maaf jika ada kesalahan dalam menukil.”

Sebenarnya tidak ada masalah sampai di sini. Namun sayang, karena saudara Abduh ZA ini orangnya sangat jeli dan teliti dalam .mencari-cari kesalahan orang lain, maka ia pun tidak melewatkan begitu saja “kesalahan sepele” 3) yang ada. Ia pun melanjutkan komentarnya :

“Sedikit catatan kecil, sebetulnya nama penyusun buku ini adalah “Jamal bin Furaihan Al-Haritsi,” bukan “Jamaluddin bin … ” demikian yang tertulis di buku aslinya, dan ada diulang sekitar lima kali di dalam isi buku tersebut, termasuk pada bagian sambutan Syaikh Shalih Al-Fauzan dan pengantar Syaikh Jamal sendiri. Syaikh Jamal menyebut dirinya sebagai; Abu Furaihan Jamal bin Furaihan Al-Humaili Al-Haritsi. Buku ini bisa didownload gratis di sejumlah situs di internet. Kami sendiri mendownload dari http://www.assalafia.com/modules.php?name=boocks&op=geninfo&did=21 .”

Demikianlah, dengan komentar tersebut bisa jadi orang yang membacanya akan punya kesimpulan ternyata Al-Ustadz Luqman salah dalam menuliskan nama penulis buku tersebut. Kemudian, bisa jadi pula mengantarkan pada kesimpulan berikutnya, bahwa ternyata Al-Ustadz Luqman pun juga tidak becus dalam menukil, … .
Namun segera Abduh mengikutinya dengan komentar berikutnya :

“Kesalahan penulisan nama seperti ini bukan suatu ketidakbecusan dalam menukil, atau tidak amanah, atau apalagi suatu kedustaan. Ini hanyalah kesalahan yang sangat kecil. Kami tidak mau ikut-ikutan Al-Ustadz Luqman untuk mengatakan seseorang yang salah ringan dalam menukil dengan penyebutan yang bermacam-macam. Karena yang semacam ini selain tidak etis juga mengabaikan kemanusian seorang yang tak luput dari kesalahan.”

Memangnya siapa yang bilang bahwa itu suatu ketidakbecusan dalam menukil, atau tidak amanah, atau apalagi suatu kedustaan? Tapi sayang, saudara Abduh sudah terlanjur mengungkit permasalahan ini, sehingga ia pun terlanjur ngurusin masalah sepele semacam ini, dan terlanjur termasuk orang yang kurang kerjaan. Sehingga bisa jadi pembaca pun sudah terlanjur berkesimpulan seperti di atas, gara-gara komentar Abduh ZA yang kurang kerjaan ini.

Pembaca yang budiman, …
Kebetulan saya punya buku Al-Ajwibatul Mufîdah ‘an As`ilatil Manâhijil Jadîdah tersebut yang dalam bentuk cetakan –bukan dari mendownload di internet–. Ketika membaca komentar saudara Abduh ZA pada catatan kaki no. 574 ini, saya segera melihat buku tersebut. Saya terheran-heran dengan kritikan tidak perlu oleh Abduh ZA ini. Padahal jelas-jelas pada sampul buku tersebut tertulis : أبي عبد الله جمال الدين بن فريحان الحارثي (=Abî ‘Abdillâh Jamâluddîn bin Furaihân Al-Hâritsî) 4). Untuk lebih memastikan lagi, saya meminjam buku tersebut yang ada pada Al-Ustadz Luqman di maktabah beliau, pun tertulis dengan tulisan yang sama.
Apakah salah kalau kemudian Al-Ustadz Luqman menuliskan nama penulis buku tersebut sesuai yang tertulis pada sampul buku tersebut, yaitu : Jamâluddîn bin Furaihân Al-Hâritsî? 5) Kemudian Abduh ZA menegaskan :

Syaikh Jamal menyebut dirinya sebagai; Abu Furaihan Jamal bin Furaihan Al-Humaili Al-Haritsi

Aneh pula Abduh ZA ini, saya berusaha mencari-cari penyebutan Abû Furaihân Jamâl bin Furaihân Al-Humaili Al-Hâritsi pada buku tersebut. Saya bolak-balik beberapa kali buku tersebut, namun tidak saya dapati. Yang ada adalah : Abû ‘Abdillâh Jamâl bin Furaihân Al-Hâritsi, demikian tertulis di bagian dalam buku, dan ini terulang beberapa kali. Adapun di sampul buku tertulis Abî ‘Abdillâh Jamâluddîn bin Furaihân Al-Hâritsi. Perhatikan, baik di bagian dalam buku maupun di bagian sampul buku sama-sama tertulis Abû ‘Abdillâh, bukan Abû Furaihân. 6)
Ya, Abduh ini repot-repot ngurusin masalah sepele semacam ini, sampai-sampai sudah terlanjur mengatakan sebagai suatu kesalahan, ndak tahunya sebenarnya tidak ada yang salah. 7)

Bicara soal ungkit-mengungkit perkara sepele yang tidak substansional –dan kurang kerjaan– sebenarnya saudara Abduh ZA-lah yang memulai, dan memang dalam hal ini dia adalah ‘orangnya’. Abduh bisa membuatnya lebih heboh lagi dari sekadar komentar di catatan kaki. Dalam buku STSK, dari “kesalahan kecil” yang terdapat dalam MAT catatan kaki no. 20, saudara Abduh ZA bisa membuat pembahasan khusus yang menghebohkan :

Catatan Ketujuh: Kedustaan-kedustaan Al-Ustadz Luqman
[STSK, pembahasan mulai hal. 137 sampai hal. 167 (!)]

Demikianlah ‘kepiawaian’ saudara Abduh dalam menjatuhkan orang lain, satu “kesalahan kecil” ia jadikan sebagai bahan kritikan sekaligus bahan tuduhan bahwa Al-Ustadz Luqman berdusta. Justru, hal ini malah membuat orang yang memang hobinya mencari-cari kesalahan orang lain mendapatkan celah dan kesempatan untuk menjadikannya sebagai amunisi untuk mengatakan Al-Ustadz Luqman berdusta.

Dalam MDMTK semua tuduhan kedustaan tersebut dijawab secara ilmiah oleh Al-Ustadz Luqman. Namun dalam BAUS -nya kali ini Abduh ZA masih membela diri dalam Catatan 20 Seputar Hadits Iftiraqul Ummah. Bahkan tidak hanya itu, dia juga membela diri atas kritikan Al-Ustadz Luqman seputar permasalahan hadits mursal, dalam satu pembahasan khusus : Catatan 24 Tidak Semua Hadits Mursal Berderajat Dha’if. Padahal Abduh sendiri yang menilai kritikan Al-Ustadz Luqman tersebut sebagai kritikan yang tidak substansif, namun di sini dia harus repot-repot membela diri.

* * *

catatan kaki:

1) Sungguh, saya sangat salut dengan ketelitian dan kejelian saudara Abduh Zulfidar Akaha dalam mencari-cari kesalahan pihak lain.

2) Dalam salah satu catatan kaki kakinya di buku STSK yaitu catatan kaki no. 371, hal. 205 saudara Abduh ZA sempat mengatakan juga :

“Kata “fasiq” dengan huruf “q,” asli dari Al Ustadz Luqman. Terkadang beliau menulis “fasik,” dengan huruf “k”. Tidak masalah.”

Kemudian catatan kaki tersebut ia komentari sendiri pada BAUS, pada catatan kaki no. 206 (hal. 71) :

“Jelas-jelas kami menulis “TIDAK MASALAH.” Kenapa Al Ustadz Luqman mempermasalahkannya? Di mana letak tendensiusnya? Capek deh … .”

Aneh sekali saudara Abduh ZA, sebenarnya yang mempermasalahkan itu siapa? Saudara Abduh ini seperti orang yang tidak sadar. Walaupun saudara Abduh mengatakan “TIDAK MASALAH”, dengan membuat catatan kaki tersebut, maka sadar ataupun tidak berarti saudara Abduh sendirilah yang telah mempermasalahkannya.

Makanya, kalau saudara Abduh ZA ini sibuk ngurusi perkara-perkara sepele –yang pelakunya merupakan orang kurang kerjaan– maka dia akan capek. Apalagi membela dan mencari-cari alasan untuk membela diri dalam ngurusi perkara-perkara sepele seperti itu. Termasuk sekadar kesalahan huruf (s) kecil atau (S) besar. “Ahlus Sunnah” atau “ahlus sunnah”, huruf (q) atau (k), dan masih banyak lagi di STSK saudara Abduh menyempatkan waktunya untuk ngurusi perkara-perkara sepele dan ringan seperti ini. Benar-benar kurang kerjaan. Aneh lagi, kebiasaan itu ia ulangi lagi di BAUS.
Kalau begitu, siapa sebenarnya yang punya kebiasaan mencari-cari kesalahan orang lain? Pembaca bisa melihat sendiri apa yang diperbuat oleh saudara Abduh dalam bukunya STSK yang kemudian ia ulangi lagi dalam BAUS. Ia sangat bersemangat mencari-cari kesalahan Al-Ustadz Luqman, sampai perkara-perkara sepele dan sangat ringan pun ia jadikan sebagai kesalahan yang ia tampilkan. Anehnya, justru saudara Abduh ZA melemparkan tuduhan, bahwa Al-Ustadz Luqman punya kebiasaan mencari-cari kesalahan. Kata saudara Abduh dalam STSK hal. 58 :

“Wajar, jika beliau selalu menyalah-nyalahkan semua orang dan kelompok yang berbeda pendapat dengan beliau.”

Padahal yang beliau lakukan dalam buku MAT adalah mengingatkan umat Islam dari penyimpangan-penyimpangan aqidah beberapa tokoh yang kebetulan dibela oleh saudara Abduh. Kesalahan-kesalahan tersebut bukan dicari-cari, tapi memang diucapkan oleh tokoh-tokoh tersebut, ditulis, dan disampaikan secara terbuka. Penyimpangan aqidah tersebut membahayakan umat, sehingga umat harus diingatkan akan bahaya tersebut. Namun saudara Abduh hendak memutarbalikkan fakta, Al-Ustadz Luqman ia tuduh menyalah-nyalahkan banyak orang dan kelompok.

3) Sebenarnya itu bukan kesalahan, tapi sesuatu yang dianggap salah oleh saudara Abduh.

4) Atau lebih tepatnya, karena dalam posisi majrûr, dibaca dengan Abî ‘Abdillâh Jamâliddîn bin Furaihân Al-Hâritsî

5) Demikian yang tertulis pada sampul depan, dengan nama Jamâluddîn, ada pun di bagian dalam buku tersebut tertulis nama Jamâl saja, dan penyebutan ini terulang beberapa kali. Sebenarnya tidak masalah. Al-Ustadz Luqman dalam hal ini tidak salah atau keliru dalam menukil, karena beliau menukil sesuai yang tertulis pada sampul depan.

6) Sekadar catatan ringan, bahwa dalam buku-bukunya yang lain, sang penulis menyebut namanya Jamâl bin Furaihân Al-Hâritsi. Seperti misalnya buku beliau yang berjudul Lammud Durril Mantsûr minal Qaulil Ma`tsur fil I’tiqâd was Sunnah, pada sampul bukunya tertulis nama penulisnya : Jamâl bin Furaihân Al-Hâritsi Buku ini termasuk salah satu buku yang dijadikan rujukan oleh Al-Ustadz Luqman dalam MDMTK, tepatnya daftar pustaka no. 119. Di situ Al-Ustadz Luqman menuliskan nama penulisnya tepat sesuai yang tertera di sampul buku, yaitu Jamâl bin Furaihân Al-Hâritsi. Demikian juga, buku lainnya lagi, berjudul Syarru Qatlâ Tahta Adîmis Samâ`, pada sampul buku tertera nama penulisnya : Jamâl bin Furaihân Al-Hâritsi. Buku ini pun termasuk salah satu buku yang dijadikan rujukan oleh Al-Ustadz Luqman dalam MDMTK tepatnya daftar pustaka no. 133. Di situ Al-Ustadz Luqman menuliskan nama penulisnya tepat sesuai yang tertera di sampul buku, yaitu Jamâl bin Furaihân Al-Hâritsi.
Sekadar informasi ringan, buku terakhir telah diterjemahkan oleh Al-Ustadz Luqman dengan judul “Mengidentifikasi Neo-Khawarij Sebagai Sejelek-jelek Mayat di Kolong Langit“, cetakan pertamanya terbit pada Sya’ban 1428 H/Agustus 2007M, diterbitkan oleh Pustaka Qaulan Sadida, Malang. Pun Al-Ustadz Luqman menyebutkan nama penulisnya dengan tepat sesuai dengan yang tertera pada buku aslinya, yaitu Jamâl bin Furaihân Al-Hâritsi.

7) Bicara soal nama Jamâluddîn, secara tidak sengaja pandangan saya tertuju pada salah satu catatan kaki buku BAUS, yaitu catatan kaki no. 415 (hal. 168). Di situ saudara Abduh menuliskan :

“Tahdzib Al-Kamal/Al-Hafizh Jamalauddin bin Abil Hajjaj Yusuf Al-Mizzi rahimahullah … .”

[perhatikan kata yang saya beri cetak tebal]
Saya periksa di bagian bagian Daftar Pustaka buku BAUS , kitab Tahdzib Al-Kamal tersebut pada no. urut 225. Pun sama, di situ saudara Abduh menuliskan pula nama Al-Hafizh Jamalauddin bin Abil Hajjaj Yusuf Al-Mizzi.

Saya coba mengcrosschek dengan melihat langsung pada kitab aslinya yang berbahasa arab di Al-Maktabah Asy-Syâmilah. Di situ tertera nama penulisnya : الحافظ جمال الدين بن أبي الحجاج يوسف المزي . Saya baru tahu kalau kalimat جمال الدين itu dibaca Jamâlauddîn. Setahu saya kalimat tersebut dibaca Jamâluddîn.

Sumber: http://www.merekaadalahteroris.com/mat/?p=44

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: