Berhari Raya Sesuai Sunnah


Dalam menghadapi hari raya baik ‘Idul Fithri maupun ‘Idul Adh-ha, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, di antaranya:Shalat ‘Id di Mushalla (Tanah Lapang)
Dari Abu Sa’id Al-Khudriy radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa keluar menuju mushalla (tanah lapang) pada hari ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adh-ha, maka pertama kali yang beliau lakukan adalah shalat.” (Muttafaqun ‘alaih)
Berkata Ibnul Hajj Al-Maliki: “Sunnah yang telah berlangsung dalam pelaksanaan shalat ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adh-ha adalah di mushalla (tanah lapang), sementara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri menyatakan: “Shalat di masjidku ini (Masjid Nabawi) lebih utama daripada seribu shalat yang dilaksanakan di masjid lainnya kecuali Masjidil Haram.” (Muttafaqun ‘alaih)
Walaupun keutamaannya yang besar seperti ini, beliau tetap keluar ke tanah lapang dan meninggalkan masjidnya.” (Al-Madkhal 2/283)

Mengambil Jalan yang Berlainan
Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari raya biasa mengambil jalan yang berlainan (ketika pergi dan pulang dari tempat shalat ‘Id).” (HR. Al-Bukhariy no.986)

Takbir pada ‘Idul Fithri & ‘Idul Adh-ha
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar pada hari ‘Idul Fithri, maka beliau bertakbir hingga tiba di tanah lapang dan hingga ditunaikan shalat. Apabila beliau telah menunaikan shalat, beliau menghentikan takbir. (Lihat Ash-Shahiihah no.171)
Jadi, takbir pada ‘Idul Fithri dimulai pada waktu keluar untuk menunaikan shalat ‘Id sampai ditegakkannya shalat ‘Id. Adapun pada ‘Idul Adh-ha takbir dimulai dari waktu fajar hari ‘Arafah sampai akhir hari Tasyriq (tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah).
Takbir dilakukan sendiri-sendiri bukan dengan berjama’ah (dipimpin oleh seseorang).
Dalam hadits ini terdapat dalil disyari’atkannya melakukan takbir dengan jahr (keras/bersuara).
Adapun bacaan takbir, di antaranya seperti yang diucapkan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ, لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ, وَاللهُ أَكْبَرُ, اللهُ أَكْبَرُ, وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

(HR. Ibnu Abi Syaibah 2/168 dengan sanad shahih)

Kapan Disunnahkan Makan pada ‘Idul Fithri & ‘Idul Adh-ha?
Dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak keluar pada hari ‘Idul Fithri hingga beliau makan (disunnahkan kurma -pent), sedangkan pada hari raya qurban beliau tidak makan hingga kembali (dari tanah lapang) lalu beliau makan dari sembelihannya.” (HR. At-Tirmidziy no.542, sanadnya hasan)

Mandi Sebelum Shalat ‘Id
Dari Nafi’ berkata: “‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu biasa mandi pada hari ‘Idul Fithri sebelum pergi ke tanah lapang.” (HR. Malik 1/177, sanadnya shahih)

Adakah Shalat Sunnah Sebelum & Sesudah ‘Id?
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dua raka’at (yaitu shalat ‘Id) pada hari ‘Idul Fithri, beliau tidak shalat sebelumnya dan tidak pula sesudahnya…” (HR. Al-Bukhariy no.989)

Tata Cara Shalat ‘Id
Pertama: Jumlah raka’at shalat ‘Id ada dua berdasarkan riwayat Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu: “Shalat safar itu dua raka’at, shalat ‘Idul Adh-ha dua raka’at dan shalat ‘Idul Fithri dua raka’at, dikerjakan dengan sempurna tanpa qashar berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Ahmad 1/370, sanadnya shahih)

Kedua: Raka’at pertama, seperti halnya semua shalat, dimulai dengan takbiratul ihram, selanjutnya bertakbir sebanyak tujuh kali. Sedangkan pada raka’at kedua bertakbir sebanyak lima kali, tidak termasuk takbir intiqaal (takbir perpindahan dari satu gerakan ke gerakan lainnya).
Dari ‘A`isyah berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir dalam shalat ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adh-ha, pada raka’at pertama sebanyak tujuh kali dan raka’at kedua sebanyak lima kali, selain dua takbir ruku’.” (HR. Abu Dawud no.1150, sanadnya shahih)
Berkata Al-Imam Al-Baghawiy: “Ini merupakan perkataan mayoritas ahli ilmu dari kalangan shahabat dan orang setelah mereka, bahwa beliau bertakbir pada raka’at pertama shalat ‘Id sebanyak tujuh kali selain takbiratul ihram, dan pada raka’at kedua sebanyak lima kali selain takbir ketika berdiri sebelum membaca (Al-Faatihah). Diriwayatkan yang demikian dari Abu Bakr, ‘Umar, ‘Ali dan selain mereka.” (Syarhus Sunnah 4/309)
Termasuk sunnah: takbir dilakukan sebelum membaca Al-Faatihah (Lihat HR. Abu Dawud no.1152 dari ‘Abdullah bin ‘Amr, sanadnya hasan).

Ketiga: Tidak ada yang shahih satu riwayatpun dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau mengangkat kedua tangannya bersamaan dengan mengucapkan takbir-takbir shalat ‘Id (lihat Irwaa`ul Ghaliil 3/112-114). Akan tetapi Ibnul Qayyim berkata: “Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu -dengan semangat ittiba’nya kepada Rasul- mengangkat kedua tangannya ketika mengucapkan setiap takbir.” (Zaadul Ma’aad 1/441)
Akan tetapi, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuknya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Keempat: Tidak shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam satu dzikir tertentu yang diucapkan di antara takbir-takbir ‘Id. Akan tetapi ada atsar dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu tentang hal ini (diriwayatkan Al-Baihaqiy 3/291 dengan sanad yang jayyid/bagus). Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Di antara tiap dua takbir diucapkan pujian dan sanjungan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.”
Berkata Ibnul Qayyim: “Nabi diam sejenak di antara dua takbir, namun tidak dihafal dari beliau dzikir tertentu yang dibaca di antara takbir-takbir tersebut.”
Sehingga, sekali lagi sebaik-baik petunjuk adalah petunjuknya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kelima: Apabila telah sempurna takbir, maka mulai membaca surat Al-Faatihah. Setelah itu membaca surat Qaaf pada salah satu raka’at dan pada raka’at lainnya membaca surat Al-Qamar (HR. Muslim no.891). Terkadang dalam dua raka’at itu beliau membaca surat Al-A’laa dan Al-Ghaasyiyah (HR. Muslim no.878).
Berkata Ibnul Qayyim: “Telah shahih dari beliau bacaan surat-surat ini dan tidak shahih dari beliau selain itu.” (Zaadul Ma’aad 1/443)

Keenam: (Setelah melakukan hal di atas), selebihnya sama seperti shalat-shalat biasa, tidak berbeda sedikitpun. (Lebih detailnya lihat Shifatu Shalaatin Nabiy karya Asy-Syaikh Al-Albaniy)

Ketujuh: Siapa yang luput darinya (tidak mendapatkan) shalat ‘Id berjama’ah, maka hendaklah ia shalat dua raka’at.
Berkata ‘Atha`: “Apabila seseorang kehilangan shalat ‘Id hendaknya ia shalat dua raka’at.”
Orang yang terlambat dari shalat ‘Id, hendaklah ia melakukan shalat yang tata caranya seperti shalat ‘id, sebagaimana shalat-shalat lain. (Al-Mughniy 2/212)

Kedelapan: Takbir (shalat ‘Id) hukumnya sunnah, tidak batal shalat dengan meninggalkannya secara sengaja atau karena lupa tanpa ada perselisihan (lihat Al-Mughniy 2/244). Namun orang yang meninggalkannya -tanpa diragukan lagi- berarti menyelisihi sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Khuthbah Setelah Shalat ‘Id
Ibnu ‘Abbas berkata: “Aku menghadiri shalat ‘Id bersama Rasulullah, Abu Bakr, ‘Umar dan ‘Utsman. Semuanya melakukan shalat sebelum khuthbah.” (Muttafaqun ‘alaih)
Tidak ada yang shahih dalam sunnah bahwa khuthbah ‘Id dilakukan dua kali dengan dipisah antara keduanya dengan duduk. Maka khuthbah ‘Id itu tetap satu kali seperti asalnya.

Kemungkaran-kemungkaran yang Biasa Terjadi pada Hari Raya
Ketahuilah wahai saudaraku muslim -semoga Allah memberi taufiq kepadaku dan kepadamu- sesungguhnya kebahagiaan yang ada pada hari-hari raya kadang-kadang membuat manusia lupa atau sengaja melupakan perkara-perkara agama mereka dan hukum-hukum yang ada dalam Islam. Sehingga engkau melihat mereka banyak berbuat kemaksiatan dan kemunkaran-kemunkaran dalam keadaan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya!!! Di antara kemungkaran itu adalah:
Pertama: Berhias dengan mencukur jenggot. Perkara ini banyak dilakukan manusia. Padahal mencukur jenggot merupakan perbuatan yang diharamkan dalam agama Allah Ta’ala sebagaimana ditunjukkan dalam hadits-hadits yang shahih yang berisi perintah untuk memanjangkan jenggot agar tidak menyerupai orang-orang kafir yang kita diperintah untuk menyelisihi mereka. Selain itu, memanjangkan jenggot termasuk fithrah (bagi laki-laki) yang tidak boleh kita rubah. Dalil-dalil tentang keharaman mencukur jenggot terdapat dalam kitab-kitab imam madzhab yang empat yang telah dikenal (lihat Fathul Baari 10/351, Al-Muhallaa 2/220, dan lainnya).

Kedua: Berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram. Ini merupakan bencana yang banyak menimpa kaum muslimin, tidak ada yang selamat darinya kecuali orang yang dirahmati Allah. Perbuatan ini haram berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Seseorang ditusukkan jarum besi pada kepalanya adalah lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (Shahih, HR. Ath-Thabraniy, lihat Ash-Shahiihah no.226)
Keharaman perbuatan ini diterangkan juga dalam kitab-kitab empat imam madzhab yang terkenal. (lihat Syarh Shahiih Muslim karya An-Nawawiy 13/10)

Ketiga: Tasyabbuh (meniru) orang-orang kafir dan orang-orang barat dalam berpakaian, mendengarkan alat-alat musik, minum minuman keras dengan berbagai mereknya dan perbuatan munkar lainnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Ahmad 2/50 dari Ibnu ‘Umar, sanadnya hasan)
Beliau juga bersabda:
“Benar-benar akan ada pada ummatku beberapa kaum yang mereka menghalalkan zina, sutera (bagi laki-laki -pent), khamr dan alat-alat musik. Dan benar-benar akan turun beberapa kaum menuju kaki gunung untuk melepaskan gembalaan mereka sambil beristirahat, kemudian mereka didatangi seorang fakir untuk suatu keperluan. Lalu mereka berkata: “Kembalilah kepada kami besok!” Maka Allah membinasakan dan menimpakan gunung itu pada mereka dan sebagian mereka dirubah oleh Allah menjadi monyet-monyet dan babi-babi hingga hari kiamat.” (HR. Al-Bukhariy no.5590 secara mu’allaq)

Keempat: Masuk dan bercengkerama/ngobrol dengan wanita-wanita yang bukan mahram. Hal ini dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sabdanya:
“Hati-hatilah kalian masuk untuk menemui para wanita!!” Maka berkata salah seorang pria Anshar: “Wahai Rasulullah, bagaimana pendaparmu tentang Al-Hamwu?” Beliau bersabda: “Al-Hamwu adalah maut (kematian).” (Muttafaqun ‘alaih)

erkata Az-Zamakhsyariy: “Al-Hamwu adalah kerabat dekat suami seperti ayah (tetapi dia dikecualikan berdasarkan nash Al-Qur`an, lihat Al-Mughniy 6/570), saudara laki-laki, pamannya dan selain mereka… Dan sabda beliau: “Al-Hamwu adalah maut” maknanya: ia dikelilingi oleh kejelekan dan kerusakan yang telah mencapai puncaknya sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerupakannya dengan maut, karena hal itu merupakan sumber segala bencana dan kebinasaan. Yang demikian karena Al-Hamwu lebih berbahaya daripada orang lain yang tidak dikenal. Sebab kerabat dekat yang bukan mahram terkadang tidak ada kekhawatiran atasnya atau merasa aman terhadap mereka, lain halnya dengan orang yang bukan kerabat. Dan bisa jadi pernyataan “Al-Hamwu adalah maut” merupakan do’a kejelekan…” (Lihat Syarhus Sunnah 9/26-27)

Kelima: Wanita-wanita bertabarruj (membuka auratnya) kemudian keluar ke pasar-pasar atau tempat lainnya. Ini merupakan perbuatan yang diharamkan dalam syari’at Allah. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya):
“Hendaklah kalian (para wanita) tetap tinggal di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian bertabarruj dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyyah dahulu dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya.” (Al-Ahzaab:33)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dua golongan manusia termasuk penduduk neraka yang belum pernah aku melihatnya: … dan wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala-kepala mereka bagaikan punuk-punuk unta. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mendapatkan bau surga. Padahal bau surga dapat tercium dari perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no.2128)

Keenam: Mengkhususkan ziarah kubur pada hari raya, membagi-bagikan manisan dan makanan di pekuburan, duduk di atas kuburan, bercampur baur antara pria dan wanita, bergurau dan meratapi orang-orang yang telah meninggal. Sebagian mereka meletakkan pada kuburan itu pelepah kurma dan ranting-ranting pohon. Ini semua tidak ada asalnya dalam sunnah.

Ketujuh: Boros dalam membelanjakan harta yang tidak ada manfaatnya dan tidak ada kebaikan padanya.
Allah berfirman (yang artinya): “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang berbuat boros itu adalah saudara-saudaranya syaithan.” (Al-Israa`:26-27)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ditanya tentang 4 hal:….dan hartanya dari mana ia peroleh dan kemana ia belanjakan.” (HR. At-Tirmidziy, hasan)

Kedelapan: Kebanyakan manusia meninggalkan shalat berjama’ah di masjid tanpa alasan syar’i atau mengerjakan shalat ‘Id tetapi tidak shalat lima waktu. Demi Allah, sesungguhnya ini adalah salah satu bencana yang amat besar.

Kesembilan: Tidak adanya kasih sayang terhadap fakir miskin, sehingga anak-anak orang kaya memperlihatkan kebahagiaan dan kegembiraan dengan berbagai jenis makanan yang mereka pamerkan di hadapan orang-orang fakir dan anak-anak mereka tanpa perasaan kasihan atau keinginan untuk membantu mereka. Padahal Rasulullah bersabda: “Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Wallaahu A’lam.

(Diringkas dari Ahkaamul ‘Iedain fis Sunnah Al-Muthahharah karya Asy-Syaikh ‘Ali Hasan dengan beberapa perubahan)

Sumber: buletin al wala’ wal bara’ Edisi ke-1 Tahun ke-3 / 05 November 2004 M / 22 Ramadhan 1425 H

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: