Membangun Indonesia dengan Pendidikan Islam


Segala puji hanya milik Allah, kita memuji-Nya, meminta pertolongan dan ampunan kepada-Nya, dan kita berlindung kepada-Nya dari jeleknya jiwa-jiwa kita dan jeleknya amalan-amalan kita. Shalawat dan salam semoga tetap terlimpah kepada panutan kita Nabi besar Muhammad shallallahu alaihi wasallam beserta para sahabatnya serta umatnya yang tetap berusaha untuk meniti jejak langkahnya dengan ihsan (lurus).

Tidak bisa dimungkiri bahwa ketika berbicara tentang pendidikan di Indonesia maka yang terbayang dalam benak kita adalah suatu gambaran yang buram. Betapa tidak, pendidikan yang seyogyanya mencetak generasi bangsa yang alim dan bijaksana, justru –pada sebagian perguruan, jika tidak dikatakan mayoritas– malah mencetak kader-kader bengis bermental algojo atau sebaliknya mencetak kader-kader “necis” bermental koruptor. Sedemikian parahkah pendidikan kita? Ada apa dengan semua ini? Adakah solusi untuk keluar dari paradigma ini?

Sebagian pengamat mengatakan bahwa dunia pendidikan kita belum juga bergeser dari persoalan klasik. Pergantian kurikulum, anggaran pendidikan, profesionalisme guru, atau ujian Nasional merupakan beberapa contoh persoalan klasik yang terus mengundang perdebatan dari tahun ke tahun. Sebagian lagi memandang pesimis dengan selalu berganti-gantinya kurikulum, setiap ganti menteri, kurikulum pun ganti pula. Tercatat, setidaknya negeri kita sudah mengalami tujuh kali perubahan kurikulum (1962, 1968, 1975, 1984, 1994, KBK, dan KTSP). Belum lagi sistem pendidikan kita yang acapkali menjadi bumerang bagi kaum akademika dan  anak didiknya. Hasilnya, arena perpeloncoan ala militer belum lama ini sempat membuat heboh masyarakat karena sempat menelan korban jiwa. Media massa seolah dikomando untuk serentak meliput tragedi tersebut. Ironisnya, kejadian itu terjadi di sekolah “beken” milik pemerintahan.

Cara Pandang terhadap Pendidikan [1]

Gambaran di atas hanyalah apa yang tampak di permukaan, tetapi bukan persoalan yang sesungguhnya. Persoalan sesungguhnya dan masalah terbesar di dalam pendidikan kita justru bermula dari cara pandang dan pemahaman kita sendiri tentang pendidikan. Yaitu, ketika kita menyamakan pendidikan dengan masa belajar, ketika kita membatasi pendidikan hanya dengan kecerdasan, ketika kita merumuskan pendidikan dengan kebutuhan pasar, dan ketika kita mengaitkan pendidikan dengan pembangunan. Sesungguhnya itulah sumber kesalahannya dan inilah ideologi pendidikan yang kita anut selama ini. Maka, disadari atau tidak, jadilah pendidikan tak lebih dari sebuah komoditi pencetak robot-robot bengis yang melayani kepentingan ideologi-ideologi sekuler.

Sesungguhnya sebelum sampai kepada taraf “Pendidikan untuk Mencerdaskan Bangsa”, sebagaimana yang sering kita baca dan dengar dari slogan, pendidikan haruslah memiliki misi, antara lain sebagai berikut:

1. Pendidikan Amanah
Allah berfirman dalam kitab-Nya yang agung, “Sesungguhnya, telah Kami kemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu, khawatir akan mengkhianatinya. Dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS. Al-Ahzab: 72)

Melalui ayat di atas, tampaklah bahwa amanah –berupa ketaatan dan kejujuran– adalah sesuatu yang Allah Subhanahu wa taala bebankan kepada manusia. Namun, manusia menganggapnya sebagai suatu perkara yang sepele. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa taala mencap manusia –karena sifatnya itu– dzalim dan bodoh.

Sesungguhnya amanah dan sifat-sifat yang menyertainya, seperti jujur, menepati janji, dan tidak khianat merupakan dasar dari segala bentuk tanggung jawab pada setiap pribadi -sebagai apa pun dia. Oleh karena itu, segala upaya dan sarana yang dapat menumbuhkan sifat amanah harus diciptakan. Pendidikan sejak dini harus diarahkan untuk menumbuhkan sifat amanah. Segala sarana yang dapat mengantarkan kepada sifat-sifat bohong, khianat, dan mungkir harus dihilangkan dari segala media pendidikan. Tentu kita semua telah melihat bagaimana jadinya kecerdasan tanpa dilandasi sifat amanah. Sia-sialah jika kita masih mengira bahwa dongeng dan sandiwara dapat menjadi inspirasi dan motivator untuk menumbuhkan sifat jujur. Sebab, kemuliaan tak mungkin diwujudkan dari kehinaan. Kejujuran tak mungkin dibangun dari kedustaan serta kepalsuan, dan kebenaran tidaklah membutuhkan topangan dari kebatilan.

2. Pendidikan Sopan Santun dan Lemah Lembut
Sopan santun serta lemah lembut merupakan sifat-sifat mulia yang dapat menimbulkan rasa tenang dan hangat di dalam pergaulan bermasyarakat. Ini merupakan di antara sifat-sifat yang disukai Allah Subhanahu wataala. Nabi Shalallahu alaihi wa sallam bersabda kepada Aisyah, “Ya, Aisyah. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa taala bersifat lemah lembut, menyukai kelemahlembutan.” (Muttafaqun Alaih)

Di lain waktu beliau berkata kepada seorang sahabatnya: “Sesungguhnya pada dirimu ada dua sifat yang dicintai Allah Subhaanahu wa ta’ala. Santun dan murah hati.” (HR. Imam Muslim)

Dengan demikian, sarana dan metode apa saja yang dapat menumbuhkan sifat mulia ini harus ditempuh. Pendidikan sejak dini harus diarahkan untuk menumbuhkan sifat-sifat sopan santun dan lemah lembut. Kemudian, apa saja yang dapat menumbuhkan sifat-sifat sebaliknya, seperti kurang ajar, tak tahu malu, dan beringas harus dihilangkan dari segala media pendidikan dan pemandangan kita sehari-hari. Tentu kita semua telah melihat bagaimana jadinya kecerdasan tanpa dilandasi sifat sopan santun dan lemah lembut.

3. Pendidikan Rajin
Rajin merupakan satu sifat yang sangat dipuji dalam Islam. Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam di dalam berbagai ungkapan menjelaskan keutamaan sifat rajin. Di antara ucapannya Shalallahu alaihi wa sallam adalah, “Sungguh, seseorang mencari seikat kayu dan memikul sendiri di atas punggungnya lebih baik dari pada ia meminta-minta kepada orang lain, diberi atau ditolak.” (Muttafaqun Alaih)

“Tangan di atas lebih baik dari pada tangan yang di bawah…..” (Muttafaqun Alaih)

“Sesungguhnya Daud alaihi sallam makan dari hasil karya tangannya.” (HR. Imam Bukhari)

Berbagai ungkapan di atas -dan masih banyak lagi- menunjukkan betapa sifat rajin sangat ditekankan di dalam Islam. Maka hendaknya segala sarana dan metode yang dapat menumbuhkan sifat rajin pada negeri ini harus diupayakan. Sebaliknya, segala sarana dan metode yang menumbuhkan sifat malas pada negeri ini harus ditiadakan. Segala macam bentuk kamuflase dari kemalasan, mengamen misalnya, juga harus dihilangkan. Sejak dini anak harus dibentuk oleh kurikulum yang memacu sifat rajin. Tentu kita semua tahu, apa jadinya kecerdasan yang dibarengi dengan sifat malas, licik.

4. Pendidikan Kuat dan Sabar
Islam memuji sifat kuat dan mengaitkannya dengan sabar. Kuat, sabar, atau tabah merupakan modal di dalam mengarungi kehidupan -yang memerlukan perjuangan dan penuh dengan cobaan. Perhatikan bagaimana Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan beberapa kalimat kepada Ibnu Abbas, ketika usianya belum mencapai sepuluh tahun, “….Ketahuilah bahwa seandainya seluruh manusia bersatu ingin memberikan manfaat kepadamu, mereka tak akan mampu melakukannya lebih dari yang telah Allah tetapkan bagimu. Dan seandainya mereka bersatu ingin mencelakakanmu, mereka tak akan mampu melakukannya lebih dari yang telah Allah tetapkan atasmu….” (HR. At-Tirmidzi dari Ibnu Abbas)

“…Ketahuilah bahwa pertolongan Allah datang melalui kesabaran, bersama perjuangan ada pengorbanan, dan bersama kesulitan ada kemudahan…”

Apa yang Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam ucapkan kepada Ibnu Abbas menunjukkan bahwa perkara kuat dan sabar sudah harus mulai diajarkan maknanya dan ditanamkan kepada anak sedini mungkin.

Maka, sarana dan metode apa saja yang dapat melahirkan serta menumbuhkan kepribadian yang kuat dan sabar harus diciptakan. Sebaliknya, segala sarana dan metode yang akan membentuk keperibadian cengeng, lemah, mudah patah semangat, mudah marah, dan mudah putus asa harus dihilangkan dari media pendidikan kita. Jangan biarkan negeri ini mengonsumsi hal-hal yang melemahkan jiwanya, berupa lagu-lagu cengeng dan film-film picisan. Bersama dapat kita bayangkan, mungkinkah ada kecerdasan tanpa dibarengi kuat dan sabar?

Dengan pilar-pilar Amanah, Santun, Rajin, dan Kuat inilah kita meraih Kecerdasan. Kecerdasan yang bertanggung jawab, manusiawi, disyukuri, dan tahan uji. Maka salah besar jika keempat misi dasar pendidikan di atas hanya dibebankan kepada lembaga-lembaga pendidikan regular –sekolah atau pondok pesantren– karena lembaga-lembaga ini terlalu kecil, terlalu singkat, dan terlalu lemah untuk menghadapi dunia. Media massa, pasar, lingkungan hidup, bahkan seluruh lembaga Ipoleksosbud (ilmu pengetahuan, politik, ekonomi, sosial, dan budaya) adalah sarana sekaligus media yang bertanggung jawab terhadap pendidikan bangsa.

Apa jadinya sebuah pribadi yang tidak memiliki sifat amanah, tidak santun, malas, dan lemah (cengeng)? Lantas bagaimana pula kalau itu sebuah bangsa? Sungguh, jangan berkhayal walau untuk sekadar tampil semalam di panggung sandiwara. Buat apa masuk pasar kalau hanya jadi barang murahan. Buat apa ikut dalam pembangunan kalau hanya jadi tumbal. Lupakan orientasi pasar, lupakan ideologi pembangunan! Buang jauh-jauh gambaran seolah-olah pendidikan itu hanya gawe sekolahan! Jangan mengkhayal bahwa kecerdasan adalah segala-galanya!

Sungguh, ini adalah sebuah kerja berat dan kita tak boleh berputus asa serta merasa pesimis untuk mengubah cara pandang kita dan masyarakat tentang pendidikan. Nabi kita telah mengajarkan kita, “Bersemangatlah kalian kepada apa-apa yang bermanfaat bagi kalian. Mohonlah pertolongan kepada Allah untuk itu dan jangan pesimis dan merasa lemah.” (HR. Ibnu Majah dari Abu Hurairah)

[1] Petuah yang pernah disampaikan oleh Al-Ustadz Zainal Abidin. Saya ungkapkan kembali sebagai bentuk kepedulianku terhadap nasib bangsa, khususnya di bidang pendidikan. Semoga Allah membalas amal beliau dengan kebaikan yang banyak. Amin.


%d blogger menyukai ini: