Ulama (Bu)Su’


Ulama Su’

 

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Hamzah Al Atsari

 

AKU HERAN DARI ORANG YANG MENJUAL KESESATAN DENGAN PETUNJUK

DAN AKU LEBIH HERAN DARI ORANG YANG MEMBELI DUNIA DENGAN AGAMA

 

Itulah kurang lebih ungkapan dua bait syair yang menggambarkan tentang keberadaan dua golongan pengacau dakwah dan perusuh di kalangan umat.

Mereka tidak lain adalah para bandit-bandit dakwah yang dhahirnya berbicara tentang agama, tetapi kenyataannya justru jauh memalingkan umat dari agama, mereka tiada lain adalah para calo-calo dakwah yang senantiasa mengabaikan dan menjual prinsip-prinsip agama demi untuk menggapai kelezatan dunia.

Sungguh mereka adalah orang-orang yang telah dinyatakan dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam: “Di malam hari saat aku Isra’, aku melihat suatu kaum di mana lidah-lidah mereka dipotong dengan gunting dari api –atau ia (Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) berkata : … dari besi–. Aku bertanya: “Siapa mereka, wahai Jibril?” “Mereka adalah para khatib-khatib dari umatmu!” (HR. Abu Ya’la dari shahabat Anas bin Malik radliyallahu ‘anhuma)

Para pembaca –hadzanallahu wa iyyakum– mereka adalah para dai dan ulama-ulama su’ yang telah Allah beberkan keberadaannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibacanya itu datang) dari sisi Allah.” Padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran: 78)

Dan Allah juga berfirman: “Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah kami berikan kepadanya ayat-ayat kami kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu lalu dia diikuti oleh syaithan (sampai dia tergoda) maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. [175] Dan kalau Kami kehendaki, sesungguhnya Kami tinggikan derajatnya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, maka ceritakanlah kepada mereka kisah-kisah itu agar mereka berfikir.” (QS. Al A’raf : 175-176)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengistilahkan mereka (ulama su’) dengan sebutan: “Para dai yang berada di tepi pintu-pintu neraka.” Beliau memperingatkan kita dari keberadaan mereka sebagaimana dalam sabdanya: ” … dan sesungguhnya yang aku takutkan atas umatku ialah para ulama-ulama yang menyesatkan.” (HR. Abu Dawud dari shahabat Tsauban radliyallahu ‘anhu)

Adapun shahabat Umar Ibnul Khaththab, beliau mengistilahkan mereka dengan sebutan: “Al munafiq al ‘alim.” Ketika ditanya maksudnya beliau menjawab: “Alimul lisan jahilul qalbi!” (pandai berbicara, tetapi bodoh hatinya –tidak memiliki ilmu–)

Para pembaca hadzanallahu wa iyyakum.

Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya tetap akan menjaga agama ini dari upaya penyesatan yang dilakukan oleh para ulama dan da’i-da’i sesat sehingga kita dibimbing oleh Allah untuk senantiasa bersikap antipati dari seruan dan fatwa-fatwa mereka. Perhatikanlah peringatan-peringatan Allah berikut ini agar menjauhi dan tidak mengikuti fatwa-fatwa mereka :

Pertama : “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagian besar dari orang-orang alim yahudi dan rahib-rahib nashrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang bathil dan mereka menghalang-halangi manusia dari jalan Allah.” (QS. At Taubah : 34)

Kedua : “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi Al Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang-orang kafir setelah kamu beriman.” (QS. Ali Imran : 100)

Ketiga : ” … dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu.” (QS. Al Maidah : 49)

Keempat : “Dan demikianlah kami telah menurunkan Al Qur’an itu sebagai peraturan yang benar dalam bahasa Arab dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap siksa Allah.” (QS. Ar Ra’d : 37)

Kelima : “Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dan urusan (agama) itu maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS. Al Jatsiyah : 18)

Keenam : “Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang dhalim.” (QS. Al Baqarah : 145)

Demikianlah dan semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga dan membimbing kita ke jalan yang diridlai-Nya.

Wallahul Muwaffaq.

Ditulis oleh Al Ustadz Abu Hamzah Al Atsari

Maraji’:

1. Al Qur’anul Karim

2. Al Musnad Abu Ya’la 1/118 nomor 1314

3. Sunan Abi Daud 4/450

4. Ishlahul Mujtama’ Al Imam Al Baihani

 

Diambil dari Buletin Al Wala’ Wal Bara’ Edisi 3 Tahun I/15 Syawwal 1423 H/20 Desember 2002 M

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: