Dialog bersama Al-Ustadz H. Jahada Mangka, Lc.


اجتماع أهل القرى على بيان أغلاط الأستاذ جَهَادَى مَنْكَى

(رسالة جوابية ونصائح لمحبي السنة الغراء)

“Dialog bersama Al-Ustadz H. Jahada Mangka, Lc.”[1]
(Ketua Departemen Kaderisasi Wahdah Islamiyah)

Penulis : Ustadz Abu Fadhl Abdul Qodir Al-Bugishy
Editor : Ustadz Abu Muhammad Dzulqarnain

Muqoddimah

Ada sebuah fenomena yang terjadi akhir-akhir ini perlu kita perhatikan, karena ia merupakan batu sandungan dan hambatan bagi kesadaran umat Islam untuk kembali kepada manhaj salaf, sehingga perlu kita cermati fenomena ini, sebab kita saksikan sekelompok atau sebahagian dari syabab mutahammisin (pemuda yang begitu bersemangat dan menggebu-gebu di dalam beragama) begitu mudah memasukkan seseorang atau lembaga-lembaga yang berlabel Islam ke dalam barisan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Ironisnya lagi, orang-orang seperti ini atau kelompok ini, mulai mengklaim dirinya sebagai Ahlus Sunnah alias salafiyyin, pengikut manhaj Salafush shaleh, pengikut manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah.[2] Tapi, sangat disayangkan mereka tidak memahami manhaj Ahlus Sunnah dengan baik, sehingga begitu mudah mengeluarkan atau memasukkan seseorang atau lembaga tertentu di dalam barisan Ahlus Sunnah wal Jamaah, atau manhaj salafus shaleh sesuai dengan keinginan mereka.

Inilah fenomena yang kita saksikan muncul akhir-akhir ini. Oleh karena itu, kita ingin mendudukkan persoalan ini sebagaimana mestinya; kita akan merujuk kepada penjelasan-penjelasan para ulama kita tentang sebuah kaedah yang kita harus jadikan sebagai standar-untuk menilai seseorang atau menilai suatu lembaga, apakah dia masuk dalam kategori Ahlus Sunnah atau tidak!! Sebab mengeluarkan dan memasukkan seseorang dari manhaj Ahlussunah bukanlah persoalan mudah[3].

Ini adalah kemungkaran besar yang harus dingkari. Allah -Ta’ala- berfirman,

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali Imran: 104).

Ibnu Taimiyyah -rahimahullah- berkata, “Memerintahkan (untuk melakukan) sunnah, dan melarang bid’ah merupakan amar ma’ruf nahi mungkar. Itu termasuk seutama-utamanya amal sholih”. [Lihat Minhaj As-Sunnah (5/253)]

Tak pantas bagi para jama’ah-jama’ah Islamiyyah pada hari ini untuk sempit dada dengan adanya kritikan , karena hal itu termasuk menegakkan keadilan, dan persaksian kepada Allah, yang telah diperintahkan oleh Allah –walaupun pada diri kita, dan pemeluk agama kita- sebagaimana Allah -Ta’ala- berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi Karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, Maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui segala apa yang kamu kerjakan”. (QS.An-Nisaa’ :135).

Memutarbalikkan (kata-kata) adalah berdusta. Enggan menjadi saksi adalah menyembunyikan persaksian sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyyah.[4] Maka bagaimana mungkin dakwah seorang akan menjadi baik setelahnya, sementara ia menyembunyikan kesalahan-kesalahan (penyimpangan) sambil berkedok dengan toleransi politis.

Tak syak lagi bahwa ghiroh yang Allah letakkan dalam hati setiap mukmin terhadap batasan-batasan-nya; inilah yang membangkitkan dirinya untuk melaksanakan kewajiban ini (mengeritik setiap orang yang menyimpang)[5] sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-,

إن الله يغار وإن المؤمن يغار وغيرة الله أن يأتي المؤمن ما حرم عليه

“Sesungguhnya Allah cemburu; seorang mu’min cemburu. Sedang kecemburuan Allah, seorang mu’min mendatangi (melakukan) yang diharamkan oleh Allah baginya”.[6]

Jika setiap kali seorang mu’min mau meluruskan pemahaman yang menyimpang, lalu dikatakan kepadanya, “Sekarang bukan waktunya. Orang-orang kafir sekarang sedang mengawasi kita”, maka kapankah kesalahannya (baca:penyimpangannya) akan diketahui? Kapankah ia (orang yang melakukan penyimpangan) akan tercegah dari kesalahan-kesalahannya? Kapankah orang sakit akan sehat, dan orang yang lemah akan kuat?

Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu– meriwayatkan sebuah hadits dari Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-; beliau bersabda,

الْمُؤْمِنُ مِرْآةُ الْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنُ أَخُو الْمُؤْمِنِ يَكُفُّ عَلَيْهِ ضَيْعَتَهُ وَيَحُوطُهُ مِنْ وَرَائِهِ

“Seorang mu’min adalah cermin bagi mu’min lainnya; Seorang mu’min adalah saudara bagi mu’min lainnya. Dia mencegah hancurnya mata pencaharian saudaranya, dan menjaganya dari belakang”.[7]

Bukanlah termasuk wala’ (loyal dan cinta) kepada orang-orang mu’min, engkau menolong saudaramu dalam kebatilannya, karena berdalih bahwa ia (saudara tersebut) melawan orang-orang komunis.

Dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا, فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنْصُرُهُ إِذَا كَانَ مَظْلُومًا أَفَرَأَيْتَ إِذَا كَانَ ظَالِمًا كَيْفَ أَنْصُرُهُ؟ قَالَ: تَحْجُزُهُ أَوْ تَمْنَعُهُ مِنْ الظُّلْمِ فَإِنَّ ذَلِكَ نَصْرُهُ

“Tolonglah saudaramu, baik ia berbuat zholim atau dizholimi”. Seorang laki-laki berkata, Wahai Rasulullah, aku akan menolongnya jika ia dizholimi. Bagaimana pandanganmu jika ia menzholimi, bagaimana caranya aku menolongnya?. Beliau bersabda, “Engkau mencegah atau menghalanginya dari kezholiman, karena itulah (bentuk) pertolongan baginya”.[8]

Kami berharap semoga risalah ringkas ini tidak dianggap batu sandungan, tapi sebuah pertolongan dari seorang saudara syafiq (sayang) kepada saudara yang zholimun li nafsih (menzholimi dirinya sendiri).

Sebab Penulisan Risalah ini

Beberapa waktu yang silam, ada seorang ikhwah yang memberikan kami sebuah rekaman CD berisi ceramah Al-Ustadz H. Jahada Mangka, Lc yang berjudul Benarkah Anda Bermanhaj Salaf?. Melihat judulnya, kami langsung terperanjat kaget campur heran, “Sejak kapan Wahdah Islamiyah memahami manhaj salaf dengan baik sehingga harus bertanya seperti ini kepada orang lain?!!”. Padahal sebelum bertanya, mestinya berkaca dulu dan bertanya kepada diri sendiri.

Ceramah ini nampaknya “ilmiah”, karena disajikan dalam sebuah rekaman CD dengan menggunakan sebuah komputer dan beberapa alat peraga. Ceramah ini direkam dan didokumentasikan oleh Tasjilatul Ummah, Ramadhan 1428 H. Demikianlah yang nampak di depan bola mata kita. Tapi realita berbicara lain ketika kita menyimak ceramah “ilmiah” ini dari menit pertama sampai akhir. Ternyata ceramah ini malah membuat kita tersenyum heran; kok ada sebuah ceramah yang disampaikan oleh seorang yang bertitel (Lc) dari Madinah, tapi isinya jauh panggang dari api. Para santri dan bukan santri saja heran mendengarkan ceramah “ilmiah” ini sampai ada yang bergumam, “Kok lulusan Madinah seperti itu?”

Ketika kami melihat dan mendengar syubhat-syubhat di dalamnya, maka kami merasa terdorong memberikan ta’liq (catatan) ringkas agar kaum muslimin terjaga darinya dan tidak terperosok ke dalamnya, sebab syubhat sering tampil dalam bentuk kebenaran. Semoga risalah ringkas ini menjadi nasihat bagi Al-Ustadz H. Jahada Mangka, Lc (JM), dan orang-orang simpati kepadanya, serta menjadi tameng bagi salafiyyun dari syubhat dan kekeliruannya. Nas’alullahal afiyah was salamah.

Sekilas tentang Isi Ceramah JM

  • Ceramah yang berdurasi 1:16 menit ini mengandung pembelaan untuk Ormas Wahdah Islamiyah dari “tuduhan-tuduhan” orang-orang yang mengaku salafi ( مدعي السلفية )[9]
  • Sang Ustadz di awal ceramahnya berbicara tentang ( أنواع الذنوب ) jenis-jenis dosa: SYIRIK – KUFUR – KABIROH (dosa besar) – SHOGHIROH (dosa kecil). Katanya, semua dosa tak terlepas dari empat jenis ini.

Namun ada suatu hal yang dilupakan oleh sang Ustadz bahwa bid’ah (besar atau kecil) bisa mengeluarkan seseorang dari lingkup Ahlus Sunnah. Dari sini awal kesalahannya.

  • Usai membahas kufur dan syirik beserta dalilnya, JM memfokuskan pembahasannya dalam masalah dosa kecil dan dosa besar dari sisi defenisi dan kriterianya beserta contohnya sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Hafizh Abu Abdillah Adz-Dzahabiy –rahimahullah– dalam kitabnya Al-Kaba’ir.
  • Setelah itu, JM membahas masalah bid’ah dan tingkatan-tingkatannya, lalu menghubungkannya dengan dhowabith (kriteria) dosa besar. JM menjelaskan hal ini sebagai pengantar bagi para pendengar agar ia mudah dalam memberikan pembelaan bagi Wahdah Islamiyah. Dalam artian, kalaupun WI menurut JM telah terjatuh dalam dosa atau bid’ah, yah paling maksimal itu adalah shoghiroh (dosa kecil) yang tidak membuat pelakunya keluar dari lingkup Ahlus Sunnah alias Islam!![10] Demikian menurut JM.

Pertanyaan untuk JM

  • Pembaca yang budiman, perhatikan kelihaian sang Ustadz dalam menyeret kita menuju pemikirannya yang keliru. Sekarang kita mau bertanya kepada JM, “Orang yang merayakan maulid, Isra’ Mi’raj setiap tahun, bahkan ia membelanya dengan “hujjah & dalil”, apakah ia termasuk Ahlus Sunnah? Kapan seorang keluar dari Ahlus Sunnah?”
  • “Orang-orang yang menciptakan dan melakukan dzikir jama’ah di zaman ini, apakah ia masih dalam lingkup Ahlus Sunnah ?”
  • “Orang-orang yang merayakan Valentine Day’s dan membelanya termasuk Ahlus Sunnah?”
  • “Apakah orang-orang yang berdemo (dengan cara damai atau tidak) dalam mengeritik pemerintah termasuk Ahlus Sunnah, bukan Ahlul bid’ah?!!”
  • “Apakah orang-orang yang membai’at pemimpin organisasi atau yayasan dalam perkara yang ma’ruf adalah Ahlus Sunnah??!”
  • “Bagaimana jika ada yang mengumpulkan semua bid’ah-bid’ah ini, apakah ia masih tetap Ahlus Sunnah?!!”

Kami yakin JM akan pusing tujuh keliling memberikan jawaban yang bertele-tele dalam mendudukkan permasalahan ini sesuai manhaj ilmiah.

  • Selanjutnya, JM kali ini memaparkan aliran-aliran sempalan dalam Islam. Pertama: KHAWARIJ yang mengkafirkan pelaku dosa besar dan menyatakan mereka kekal dalam neraka. Kedua: MU’TAZILAH yang meyakini pelaku dosa besar berada diantara dua tempat (mukmin bukan, kafir bukan). Mu’tazilah ibaratnya orang yang pusing menghukumi pelaku dosa besar. Tapi mereka sama dengan KHAWARIJ dalam meyakini kekalnya pelaku dosa besar dalam neraka!! Ketiga: MURJI’AH yang paling mutasahil (bergampangan) dengan dosa besar, sebab mereka meyakini bahwa pelaku dosa besar tetap dianggap mukmin yang sempurna imannya. Adapun Ahlus Sunnah sebagai kelompok haq, mereka wasath (pertengahan) diantara kelompok-kelompok tersebut, sebab Ahlus Sunnah meyakini bahwa pelaku dosa besar saat di dunia ia adalah mukmin, tapi kurang imannya, dan di akhirat ia berada dalam kehendak Allah; jika ia hendak mengampuni dosanya, maka Allah akan ampuni. Jika Dia hendak menyiksanya, maka Dia akan menyiksanya.

Footnote :

[1] Jahada Mangka selanjutnya kami sebut sang Ustadz atau JM

[2] Kelompok yang mulai mengklaim dirinya belakangan ini sebagai Ahlus Sunnah adalah Wahdah Islamiyah . Walaupun pengakuan sebagai salafiyyun masih berat dan malu-malu.

[3] Ini adalah petikan mukaddimah Ustadz Jahada Mangka, Lc dalam ceramahnya yang kami akan ta’liq (beri catatan) ringan dalam tulisan ini, Insya Allah. Petikan ini disertai sedikit perubahan sesuai kondisi yang ada.

[4] Lihat Majmu’ Al-Fatawa (28/235)

[5] Tapi tentunya dengan hikmah, bukan serampangan. Adapun dakwah hizbiyyah, maka kalian akan melhat da’wah mereka jauh dari hikmah (sifat bijak). Lihat saja ketika mereka meledakkan sebagian tempat sehingga membunuh manusia secara zholim, dan merusak hak milik orang. Tentunya ini bukan hikmah !! Lihat saja ketika mereka masuk dalam kancah perpolitikan haram sehingga mereka rela mengorbankan dirinya “atas nama ummat”. Tentunya ini bukan hikmah !! Lihat saja ketika mereka membenci Salafiyyun yang menasihati mereka, sedang dilain waktu, mereka membela para ahli bid’ah semacam Sayyid Quthb. Tentunya ini bukan hikmah !! Lihat saja ketika mereka mengharamkan barang-barang produk Yahudi dan Nashrani, sementara mereka menyemarakkan dan menggalakkan demonstrasi yang termasuk hasil produksi pemikiran orang-orang Yahudi dan Nashrani. Tentunya ini bukan hikmah, karena telah mengharamkan sesuatu yang dihalalkan Allah!! Lihat saja perbuatan mereka yang tak dihiasi oleh hikmah ketika sekelompok hizbiyyun yang menamai diri mereka dengan “mujahidin” di Poso. Mereka menangkap wanita nashrani yang tak bersalah, lalu mereka bunuh dengan cara sadis; disayat-sayat sampai mati. Inikah yang namanya hikmah, padahal nabi melarang membunuh wanita, anak kecil, para pendeta yang tak terlibat perang?! Tentunya ini bukan hikmah !! Jika kita mau sebutkan ketidakbijakan para hizbiyyun, maka perlu sebuah kitab yang khusus membahas perkara itu.

[6] HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (5223), dan Muslim dalam Shohih-nya (2761)

[7] HR. Abu Dawud dalam As-Sunan (4918), Al-Bukhoriy dalam Al-Adab Al-Mufrod (239), Al-Baihaqiy dalam Al-Kubro (16458), Al-Qudho’iy dalam Musnad Asy-Syihab (125) secara ringkas dari Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu- . Hadits ini di-hasan-kan oleh Syaikh Nashir Al-Albaniy Al-Atsariy dalam Ash-Shohihah (926)

[8] HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab Al-Ikroh (6552)

[9] Maksudnya: para salafiyyun yang menasihati mereka –khususnya, para ustadz salaf Makassar-, seperti Al-Ustadz DzulQornain, Khidhir, Ibnu Yunus, Abdul Qodir Abu Fa’izah, dan lainnya. Istilah pengaku-aku salafi telah dijadikan alat oleh WI dan sewarnanya untuk merusak citra salafiyyin. Padahal merekalah yang lebih pantas dengan istilah tersebut sebagaimana anda akan lihat, insya Allah. Istilah itu juga digunakan oleh Mut’ab bin Suryan Al-Ushoimiy, Penulis Beda Salaf dengan “Salafi” untuk mencoreng citra salafiyyin. Tapi, Alhamdulillah Al-Ustadz Abu Fa’izah telah membantah segala tuduhan dan pernyataan Al-Ushoimiy dalam buku bantahan yang berjudul “Beda Salafi dengan Hizbi”. Jazahullahu khoiron.

[10] Ini adalah bentuk peremehan terhadap bid’ah yang bisa mengubahnya menjadi bid’ah kabiroh (yang besar) sebagaimana yang dijelaskan oleh Asy-Syathibiy dalam Al-I’tishom (2/389-398), tahqiq Masyhur Hasan Salman.

Sumber: http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/dialog-bersama-al-ustadz-h-jahada-mangka-lc-muqaddimah.html

3 responses

  1. Assalamualaikum
    buat ikhwan semua, ada yang bisa mengirimkan ke email ana ( annashihah@yahoo.com ) file audio dan dokumen tentang dakwah yang dibuat secara ilmiah? juga tulisan dan nasehat dari ikhwan2 yang telah keluar dari wahdah, Jazakumullahu khairan..

  2. Sultan Al-Buttadidi | Balas

    maaf untuk penulis,, bisa tidak kita jawab dari pertanyaan anda diatas…..?? soalx ana bingung,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: