Bid’ahnya Dzikir Berjam’ah Ala Arifin Ilham (3)


Penulis: Al Ustadz Abu Karimah ‘Askari bin Jamal Al Bugisi

Pengertian Bid’ah

Secara bahasa: maknanya adalah sesuatu yang baru yang tidak ada contoh sebelumnya, seperti firman Allah:
قُلْ مَا كُنْتُ بِدْعًا مِنَ الْرُّسُلِ
“Katakanlah: aku bukanlah bid’ah dari kalangan para rasul”
Maknanya adalah: aku bukanlah yang pertama diutus, namun telah diutus sebelumku sekian banyak rasul.

Imam Asy Syathibi rahimahullahu Ta’ala mengatakan: “Bid’ah adalah suatu metode (tatacara) yang diada-adakan dalam agama, menyerupai syari’at yang tujuan mengamalkannya berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla.”

Fairuz Abadi dalam “Bashair Dzawit Tamyiiz” menyebutkan:”Bid’ah itu adalah segala sesuatu yang baru dalam agama sesudah penyempurnaan.”

Ada pula yang mengatakan:”Segala sesuatu yang diada-adakan sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam, baik ucapan maupun perbuatan.”

Dikatakan pula:”Bid’ah adalah mengeluarkan pendapat atau perbuatan, di mana pelaku atau yang mengatakannya tidak mengambil tuntunan atau contoh dengan pembuat syari’at, atau hal-hal yang pernah ada sebelumnya yang serupa dengan pebuatan atau pendapat itu serta tidak bersandar kepada ushul yang kokoh. (Lihat pula pembahasan yang terperinci tentang makna bid’ah secara istilah dalam kitab Mauqif Ahlus Sunnah: 1/90-92)

Pembagian Bid’ah menjadi Bid’ah Haqiqah dan Idlafiyah
1. Bid’ah Haqiqiyah
Adalah bid’ah yang tidak ada dalil dari syari’at yang mendasarinya, baik dari Al Quran, As Sunnah, Ijma’ atau kias dan pendalilan yang mu’tabar (diakui) di kalangan ahli ilmu, secara keseluruhan atau terperinci.

2. Bid’ah Idlafiyah
Adapun bid’ah idlafiyah adalah bid’ah yang mempunyai dua sisi terkait:
a. Di mana pada satu sisi, dia mempunyai dalil yang berkaitan dengan bid’ah itu, sehingga dari arah ini tidak dikatakan bid’ah
b. Tidak berkaitan dengan satu dalilpun, seperti halnya bid’ah haqiqiyah
Yakni, dari sisi adanya dalil sebagai dasar, dia adalah sunnah. Sementara dari sisi lain, merupakan bid’ah karena bersandar kepada syubhat (kerancuan), bukan kepada dalil atau sama sekali tidak bersandar kepada apapun. (I’tisham 1/367-368).

Tidak semua yang asalnya disyari’atkan, berlaku pula dalam segala hal

Dari keterangan tentang pembagian bid’ah tadi, jelaslah bagi kita bahwa tidak semua yang pada asalnya disyari’atkan maka dia masyru’ dari segala sisi, sama saja apakah berkaitan dengan waktu, tempat atau yang lain, seperti yang dijelaskan oleh Imam As Suyuthi rahimahullahu Ta’ala dalam Al Amru bil Ittiba’ ketika menyebutkan sebagian bid’ah yang disangka sebagian besar kaum muslimin adalah ibadah, amalan untuk mendekatkan diri kepada Allah, ketaatan atau sunnah.

Selanjutnya beliau berkata:”Adapun yang kedua dari hal-hal yang dianggap manusia sebagai ketaatan, dan amalan untuk mendekatkan diri kepada Allah, sesungguhnya adalah kebalikannya. Atau yang meninggalkannya justeru lebih baik daripada mengerjakannya, adalah suatu perkara yang diperintahkan oleh syari’at dalam salah satu bentuk amalan, pada waktu atau tempat tertentu. Misalnya puasa (hanya) siang hari, thawaf (hanya) di Ka’bah. Atau hanya berlaku untuk satu orang seperti yang dikhususkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dalam perkara mubah atau keringanan-keringanan. Kemudian datang si jahil mengkiaskan dirinya dengan keadaan itu dan melaksanakannya, padahal pekara itu terlarang baginya untuk mengerjakannya. Atau misalnya dia mengkiaskan bentuk-bentuk atau cara-cara pelaksanaan amalan tersebut satu dengan yang lainnya tanpa menghiraukan perbedaan waktu dan tempatnya.”

Syaikh ‘Amru bin ‘Abdul Mun’im ketika menerangkan tentang kaidah bagaimana mengenal suatu bid’ah, mengatakan:”Semua bid’ah yang disebutkan secara mutlak oleh syari’at dan dibatasi oleh sebagian manusia menurut tempat, waktu, bentuknya ataupun jumlahnya, maka hal itu adalah bid’ah.”
“Bisa jadi, suatu ibadah bersambung dengan ibadah lain yang disyari’atkan, hanya saja hubungan tersebut secara bersamaan termasuk bid’ah.”

Beliau mengatakan pula:”Ibadah adalah amalan tauqifiyah (dikerjakan berdasarkan adanya perintah atau contoh–ed), bukan hanya dalam bentuk dan tata caranya tetapi juga waktu pelaksanaannya, juga tempatnya sehubungan dengan ibadah lainnya dan keberadaannya bersama kebiasaan yang lain. Maka dari sini, tidak boleh menyambung ibadah dengan ibadah lain kecuali apabila ada dalil syari’at yang membolehkannya. Kalau tidak ada dalil yang mendasarinya maka perbuatan itu adalah bid’ah.”

Dan inilah, sekarang saya hadirkan ke hadapan sidang pembaca –semoga Allah merahmati anda- sekelumit contoh dalam permasalahan ini agar kaidah ini mudah dipahami.
1. Membaca Al Quran. Ini jelas ibadah. Keutamaannya banyak diungkapkan dalam Al Quran dan As Sunnah, dan di sini kami hanya cantumkan sebagiannya karena khawatir terlalu panjang.
Imam Muslim meriwayatkan dalam shahihnya dari Abu Umamah Shudai bin ‘Ajlan Al Bahili radliyallahu ‘anhu, katanya:”Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda:
اقرؤوا القرآن فإنه يأتي يوم القيامة شفيعا لأصحابه
“Bacalah Al Quran, karena sesungguhnya dia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at.”
Meskipun adanya keutamaan sebesar ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam telah melarang kita membacanya pada waktu sujud, ruku’ di dalam shalat sebagaimana juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dari hadits Ibnu ‘Abbas radliyallahu ‘anhuma, katanya:”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda:
ألا إني نهيت أن أقرأ القرآن راكعا أو ساجدا فأما الركوع فعظموا فيه الرب وأما السجود فاجتهدوا في الدعاء فقمن أن يستجاب لكم
“Ketahuilah, sesungguhnya saya dilarang membaca Al Quran dalam keadaan sedang ruku’ atau sujud. Maka agungkanlah Allah ketika ruku’. Adapun sujud, maka bersungguh-sungguhlah berdo’a, maka pantaslah untuk dikabulkan doa kalian.”
2. Demikian pula shalat. Di mana shalat adalah kebaikan yang telah ditetapkan. Seperti diriwayatkan oleh Ath Thabrani (Mu’jamus Shaghir) dengan sanad hasan dari beberapa jalannya dari hadits Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda:
الصلاة خير موضوع
“Shalat itu adalah kebaikan yang ditetapkan.”
Namun demikian, kalau seseorang shalat sesudah ‘ashar atau sesudah fajar (shubuh) atau ketika matahari tepat di atas (belum bergeser) tanpa alasan, maka shalat itu terlarang sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari hadits Ibnu ‘Abbas radliyallahu ‘anhuma, katanya:
شهد عندي رجال مرضيون و أرضاهم عندي عمر أن رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم نهى عن الصلاة بعد الفجر حتى تطلع الشمش وبعد العصر حتى تغيب الشمش
“Salah seorang laki-laki yang diridlai dan yang paling mulianya adalah ‘Umar, dia bersaksi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam melarang shalat sesudah fajar (Shubuh) sampai terbitnya matahari dan sesudah ‘ashar sampai terbenamnya matahari.”
Dan Imam Muslim meriwayatkan dalam sahihnya dari hadits ‘Uqbah bin ‘Amir, ia berkata:
ثلاث ساعات كان رسول الله صلى الله عليه وسلم ينهانا أن نصلي فيهن وأن نقبر فيهن موتانا : حين تطلع الشمش بازغة حتى ترتفع وحين يقوم قائم الظهيرة حتى تزول الشمش وحين تتضيف الشمش للغروب
“Ada tiga waktu yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam melarang kami shalat padanya, dan melarang menguburkan jenazah pada waktu itu, yaitu ketika matahari terbit sampai dia naik, dan ketika tepat berada di atas sampai dia bergeser dan pada saat dia akan tenggelam.”
Begitupula kalau dikhususkan shalat pada waktu yang ditentukan disertai keyakinan adanya keutamaan apabila dikerjakan pada saat itu. Sebagaimana keyakinan sebagian orang adanya keutamaan memperbanyak shalat pada bulan Rajab atau Sya’ban. Oleh karena itu pula Imam An Nawawi rahimahullahu Ta’ala menyatakan dalam fatwanya bahwa Shalat Rajab dan Sya’ban adalah dua bid’ah yang tercela.”
3. Demikian pula ucapan shalawat dan salam untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam. Maka sesungguhnya keduanya adalah ibadah yang disyari’atkan. Bahkan Allah Ta’ala memerintahkannya, sebagaimana dalam firman-Nya:
إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat atas Nabi. Wahai orang-orang beriman, bershalawatlah kamu untuknya dan ucapkanlah salam dengan sebenar-benarnya.”(Al Ahzab 56).
Dengan perintah Allah ini, maka mengkhususkannya (dikerjakan) pada satu waktu atau tempat tertentu, merupakan perbuatan bid’ah yang munkar. Sebagaimana halnya bila seseorang menyambung ucapan shalawat ini setelah dia bersin dan membaca Alhamdulillah.
Imam At Tirmidzi, Al Hakim dan yang lain meriwayatkan adari Nafi’, bahwa ada seorang laki-laki bersin di sebelah Ibnu ‘Umar radliyallahu ‘anhuma, kemudian dia berkata:” الحمد لله والصلاة والسلام على رسوله ” (Segala puji hanya bagi Allah, dan shalawat serta salam untuk Nabi-Nya). Ibnu ‘Umar berkata:”Dan saya mengatakan:” الحمد لله والسلام على رسول الله ” (Segala puji hanya bagi Allah, dan salam sejahtera bagi Rasulullah), bukan begini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam mengajari kami. Beliau ajarkan kami untuk mengucapkan:” الحمد لله ” dalam setiap keadaan.”

Dari sini nampaklah bagi kita perbedaan antara bid’ah secara lughawi dan bid’ah secara istilahi, di mana pengertian bid’ah secara lughawi lebih umum, sebab secara istilahi dikhususkan dengan apa yang baru di dalam agama yang tidak ada penunjukannya dalam nash-nash dan kaidah syariah.

Maka terkadang suatu perbuatan tersebut termasuk bid’ah dalam bahasa namun tidak termasuk bid’ah dalam syari’at. Seperti apabila ada nash yang menganjurkan suatu amalan namun belum sempat diamalkan melainkan setelah terputusnya syari’at, dan meninggalnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam. Apakah karena belum diberikan kemudahan untuk mengumpul-kannya atau karena adanya penghalang yang mencegah untuk melakukannya di zaman turunnya syari’at.

Maka bagi orang yang pertama melakukannya dikatakan bid’ah secara bahasa sebab merupakan perbuatan yang tidak ada contohnya terdahulu, namun bukan bid’ah dalam syari’at karena adanya dalil yang menunjukkan disyari’atkannya.

Diantara contoh hal ini banyak dari perbuatan para Shahabat, seperti pengumpulan Al-Qur’an di zaman Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, shalat Tarawih di zaman ‘Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, dan yang lainnya.( Mauqif Ahlus Sunnah: 1/ 93)

(Disalin dari “Bid’ah ‘Amaliyah Dzikir Taubat, Bantahan terhadap ‘Arifin Ilham Al Banjari”, Penulis: Al Ustadz Abu Karimah ‘Askari bin Jamal Al Bugisi, Murid Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i, Yaman. Dterbitkan dalam buku berjudul “Bid’ahnya Dzikir Berjama’ah Bantahan Ilmiah Terhadap M. Arifin Ilham Dan Para Pendukungnya” oleh penerbit Darus Salaf Darus Salaf Press, Wisma Harapan Blok A5 No. 5 Gembor, Kodya Tangerang HP. 081316093831 Email: darussalafpress@plasa.com)

Sumber: http://www.darussalaf.or.id/index.php?name=News&file=article&sid=10

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: