Pemandangan di Kampung Jelambar, Grogol


Hari ini saya berkunjung ke rumah mertua. Rumah mertua saya ini di daerah Jelambar, Grogol. Apa yang pembaca bayangkan ketika disebut nama Grogol? Ya, daerah padat penduduk, padat gedung, padat lalu lintas, dan (mungkin) padat masalah. Benar memang, hawa itu mulai terasa ketika memasuki Borobudur Street, Jelambar. Lalu lintas padat, truk, bus, mikrolet, bemo, bajaj, ojek, taksi, semua ada di situ. Penduduknya banyak yang bermata sipit. Mereka bercampur dengan penduduk pribumi. Tidak ada masalah. Yah, seperti di negeri orang rasanya. :)

Sampai di rumah mertua, seperti biasa anak-anakku disambut dengan penuh gembira oleh nenek dan kakeknya. Istirahat sebentar dan duduk sambil minum teh manis anget bikinan mertua, mata saya tertuju ke jam dinding. Sudah jam 15.15 WIG (Waktu Indonesia Grogol). Ashar nih, pikir saya. Tapi nggak kedengaran azan. Perasaan memang jarang kedengaran azan di sini kalau pas zuhur dan asar. Kurang populer kali ya? Atau orang-orang lagi di kantor. Akhirnya, saya ke masjid deket situ. Pintu masjid terbuka, tapi sandal di depan pintu cuma ada 2 pasang. Itu artinya? Nggak ada jamaah salat. Bener dugaan saya, nggak ada salat berjamaah. Hanya saya dapati seorang lelaki di tengah musala yang sedang zikir. Jadinya salat sendirian deh di musala itu.

Begitulah keadaan Jelambar, Grogol yang mirip Kota Pacinan. Kota dengan penduduk mayoritas Chinese. Pergeseran budaya juga terasa sekali. Bau dupa lebih mendominasi udara sekitar.

Saat azan magrib tiba. Alhamdulillah, suasana musala cukup ramai. Mungkin yang kantoran sudah pada pulang. Setelah ambil wudu, saya langsung masuk ke musala. Hampir nabrak orang, dasar memang saya lepas kacamata dan kalau udah senja kabur pandangan. Aduh, saya perhatiin orang yang mau saya tabrak tadi perempuan to? Kirain laki-laki tadi. Astaghfirullah. Alhamdulillah, nggak sampai nabrak tadi. Begitu masuk ke musala, dikejutkan lagi pemandangan jamaah salah. Aduh….. ini jamaah perempuan kenapa sejajar dengan jemaah pria, nggak pake hijab pula?!! Nyetting musalanya salah nih, pikir saya. Akhirnya saya harus cari-cari shaf yang jauh dari perempuan. Menyesakkan pemandangan di daerah ini. Jauh sekali dari suasana islami, meskipun di rumah Allah sekalipun. Kapan negeri ini bisa berubah? Berubah seperti zaman para sahabat?  Wallahu a

2 responses

  1. Imam Ali Sodikin | Balas

    Kalo boleh tahu nama Mushalanya apa?
    Biar saya mampir

    1. Namanya mushala at tarwiha.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: