Pameran Buku


Pameran buku terbesar di dunia yang diselenggarakan di Jerman belum lama usai. Pameran bernama Frankfurt Book Fair itu sempat diikuti oleh negara kita. Nah, sebentar lagi akan ada pameran buku terbesar di Indonesia yang akan diselenggarakan di Jakarta.

Penerbitku adalah salah satu peserta pameran yang akan ikut meramaikan acara tersebut. Kemarin rekan-rekan panitia sudah sibuk rapat dan meeting buat mempersiapkan segala sesuatunya. Btw, buku-buku yang akan dijual penerbitku nanti adalah buku-buku pendidikan sekolah mulai dari tingkat SD sampai SMA dan buku-buku umum. Buku-buku umum ini terbagi menjadi dua, yaitu buku fiksi dan nonfiksi.   

Dahulu, aku pernah melihat-lihat acara Book Fair di Gelora Bung Karno. Luar biasa, ramai dan segala macam buku ada. Namun, sekarang aku nggak tahu apakah peminatnya masih banyak, baik dari penerbit maupun pengunjung. Soalnya, krisis global sedikit banyak (baca=sangat banyak) memengaruhi industri penerbitan. Beberapa penerbit, bahkan penerbit besar pun, terpaksa mem-PHK karyawannya agar mereka tetap eksis di persaingan bisnis.

Kembali ke pameran buku. Selain buku-buku pendidikan sekolah dan buku-buku umum, ada juga buku-buku agama yang dipamerkan. Penerbit-penerbit berlabel Islam pun banyak yang menggelar stand pada acara Book Fair. Nah, kira-kira adakah keinginan dari penerbit ahlus sunnah untuk mengikuti pameran tersebut? Aku rasa buku-buku dari penerbit ahlus sunnah lebih layak untuk dijuall. Mengapa? Ada beberapa alasan,

pertama, buku-buku dari penerbit ahlus sunnah sarat dengan ilmu yang berlandaskan kitabullah dan sunnah berdasarkan pemahaman salaf. Aku katakan bahwa inilah yang terpenting dari sebuah buku, layak tidaknya sebuah buku dibaca adalah berangkat dari prinsip ini.

kedua, buku-buku terjemahan dari penerbit ahlus sunnah lebih terpercaya akan keakuratan  dan keamanahan terjemahannya. Biasanya melalui muraja’ah (dibaca ulang) oleh ustadz yang ditunjuk.

ketiga, pada buku-buku terjemahan biasanya ditambah ta’lik (komentar) terhadap hadits-hadits yang diketahui itu dhaif (lemah), tetapi teranggap shahih pada buku aslinya atau tidak tercantum kedudukannya. Ini aku katakan sebagai nilai lebih dibanding buku-buku terjemahan dari penerbit selain ahlus sunnah.

keempat, buku-buku terjemahan dari penerbit ahlus sunnah biasanya menerjemahkan apa adanya dari buku/kitab aslinya. Aku pernah melihat buku terjemahan berjudul Dakwah para Nabi karya Syaikh Rabi’ ditambah di akhir terjemahan dengan terjemahan tulisan Muhammad Abduh atau Salman Al Audah (?). Tujuannya adalah membenturkan tulisan Syaikh dengan penulis dari kalangan hizbi. Ini jelas sangat berbahaya. Pembaca pun akan bingung. Kata pepatah, tidaklah seseorang itu menerjemahkan buku yang bertentangan dengan manhajnya, kecuali akan diubahnya. Jadi, Anda mesti hati-hati kalau membaca buku terjemahan orang-orang yang manhajnya rusak/menyimpang, meskipun kitab yang diterjemahkan adalah kitab-kitab ulama ahlus sunnah.

Nah, kalau begitu adakah dari penerbit ahlus sunnah yang ingin meramaikan pameran? Adakah hukum syari’at yang berkaitan dengan keikutsertaan dalam pameran? Wallahu a’lam.

http://www.antosalafy.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: