Cara Bertakbir Ketika Lebaran


Bertakbir Menuju Lapangan

 

 

Mengumandangkan takbiran saat menuju mushalla merupakan sunnah yang dilakukan pada dua hari raya kaum muslimin. Sunnah ini dilakukan bukan cuma saat keluar dari rumah, bahkan terus dilakukan dengan suara keras sampai tiba di lapangan. Setelah tiba di lapangan, tetap bertakbir sampai imam datang memimpin sholat ied. Inilah sunnahnya!

 

Ada suatu riwayat dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam: “Bahwa beliau keluar di hari iedul Fithri seraya bertakbir sampai tiba di musholla dan sampai usai sholat. Jika usai sholat, beliau hentikan takbir”. [HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (2/165) dan Al-Firyabi dalam Ahkam Al-Iedain (95). Lihat juga Silsilah Ahadits Ash-Shohihah (171)]

 

Dalam riwayat lain, Ibnu Umar Radhiyallahu berkata,

 

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَخْرُجُ فِيْ الْعِيْدَيْنِ مَعَ الْفَضْلِ بْنِ عَبَّاسٍ وَعَبْدِاللهِ وَالْعَبَّاسِ وَعَلِيٍ وَجَعْفَرٍ وَأُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ وَزَيْدٍ بْنِ حَارِثَةَ وَأَيْمَنَ بْنِ أُمِّ أَيْمَنَ رَافِعًا صَوْتَهُ بِالتَّهْلِيْلِ وَالتَّكْبِيْرِ

 

“Nabi shallallahu alaihi wa sallam keluar di dua hari raya bersama Al-Fadhl bin Abbas, Abdullah, Al-Abbas, Ali, Ja’far, Al-Hasan, Al- Husain, Usamah bin Zaid, Zaid bin Haritsah, dan Aiman bin Ummi Aiman sambil mengangkat suaranya bertahlil dan bertakbir”. [HR. Al-Baihaqy dalam As-Sunan Al-Kubro (3/279) dan dihasankan oleh Al-Albany dalam Al-Irwa’ (3/123)]

 

Jadi, disyari’atkan di hari ied saat hendak keluar ke lapangan untuk mengumandangkan takbir dengan suara keras berdasarkan kesepakatan empat Imam madzhab. Akan tetapi, tidak dilakukan secara berjama’ah. [Lihat Majmu’ Al-Fatawa 24/220]

 

Muhaddits Negeri Syam, Muhammad Nashiruddin Al-Albany -rahimahullah – berkata dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah (1/281) ketika mengomentari hadits pertama di atas, “Dalam hadits ini terdapat dalil disyari’atkannya sesuatu yang telah dilakukan oleh kaum muslimin berupa adanya takbir dengan suara keras di jalan-jalan menuju mushalla. Sekalipun kebanyakan di antara mereka sudah mulai meremehkan sunnah ini sehingga hampir menjadi tinggal cerita belaka. Itu disebabkan lemahnya dasar agama mereka serta canggungnya mereka menampakkan sunnah”.

 

Faidah:

 

Tentang lafal takbir, tak ada yang shahih datangnya dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Akan tetapi, di sana ada beberapa atsar (riwayat-ed) yang shohih datangnya dari para sahabat Radhiyallahu anhum ajma’in.

 

Dari sahabat Ibnu Mas’ud, beliau mengucapkan:

 

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ لَاإِلَهَ إِلَّااللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

 

[HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (2/168) dengan sanad yang shohih]

 

Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhu-, beliau mengucapkan:

 

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ اَللهُ أَكْبَرُ وَأَجَلُّ اَللهُ أَكْبَرُ عَلَى مَا هَدَانَا

 

[HR. Al-Baihaqy dalam As-Sunan Al-Kubro (3/315) dengan sanad yang shohih.]

 

Salman Al-Farisy, beliau mengucapkan: “Bertakbirlah:

 

اَللهُ أَكْبَرُاَللهُ أَكْبَرُاَللهُ أَكْبَرُكَبِيْرًا

 

[HR.Al-Baihaqy dalam As-Sunan Al-Kubro (3/316) dengan sanad yang shohih.]

 

Adapun tambahan yang diberikan oleh orang-orang di zaman kita pada lafal takbir, maka semua itu merupakan buatan orang-orang belakangan, tak ada dasarnya.

 

Al-Hafizh Ibnu Hajar Asy-Syafi’i –rahimahullahberkata dalam Al-Fath (2/536), “Di zaman ini telah diciptakan semacam tambahan pada masalah (lafazh takbir) itu yang tak ada dasarnya”.

 

Faedah:

 

Waktu takbiran di hari raya iedul Adhha mulai waktu fajar hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah) sampai akhir hari Tasyriq (13 Dzulhijjah). Inilah madzhab Jumhur salaf dan ahli fiqh dari kalangan sahabat dan lainnya. [Lihat Majmu’ Al-Fatawa (24/220)]

 

Sebagian orang mengkhususkannya takbiran sehabis sholat. Tapi ini tak ada dalilnya. Ini dikuatkan dengan sebuah atsar :“Ibnu Umar bertakbir di Mina pada hari-hari itu –tasyriq,pen-, seusai sholat, di atas tempat tidur, dalam tenda, majlis, dan waktu berjalan pada semua hari-hari tersebut “. [HR.Al-Bukhory dalam Ash-Shohih (1/330)]

 

[Saya sengaja mengambil sebagian artikel di atas dari situs almakassari.com karena saya anggap penting point tersebut yang kebanyakan kaum muslimin tidak mengetahuinya. Silakan melihat artikel selengkapnya di http://almakassari.com/?p=171#more-171%5D

One response

  1. Recent Blogroll Additions……

    […]usually posts some very interesting stuff like this. If you’re new to this site[…]……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: