Tag Archives: istri

Pengemis Itu Adalah Mantan Suamiku!


HIDUP INI TERUS BERGULIR………..
======================

Roda kehidupan memang senantiasa bergulir, ada saatnya untuk bahagia dan ada pula waktu-waktu terjatuh dalam duka. Tidak ada yang mengetahui adanya perubahan, kecuali Dzat yang menciptakan kehidupan.

Tidak ada seorangpun tahu apa yang bakal terjadi dalam hidup mereka. Manusia memang bisa berharap dan berencana, tapi kadang hidup bergulir ke arah yang tak disangka-sangka.

Tak peduli betapa deras airnya, hujan akan selalu berhenti. Setiap tetes air mata dan luka akan mengering. Dan matahari akan selalu terbit dan terbenam setiap harinya, sampai batas waktu yang ditetapkan-Nya.

Semua itu hanyalah fase hidup yang akan terlewati seiring dengan waktu. Jangan biarkan gelapnya masa lalu meredupkan cerahnya harapan di esok hari.

Hari-hari ini, kita berbahagia. Berbagai sajian dengan olahan daging sapi maupun kambing memenuhi meja makan di dalam rumah. Gule, kare, rawon, soto, sate, atau barangkali mencoba resep baru.

Daging sapi ataupun kambing merupakan bentuk ujian atas seorang mukmin. Akankah dia menjadi hamba yang bersyukur atau justru mengkufuri nikmat-Nya. Hal ini juga berlaku pada daging ayam.

Dikisahkan, ada seorang laki-laki yang kaya raya. Hidupnya pun dipenuhi dengan kemewahan.

Suatu hari, lelaki kaya tersebut sedang menikmati ayam bakar dengan ditemani sang istri tercinta. Tidak terbayangkan betapa lezatnya sajian pada waktu itu.

Tiba-tiba terdengar suara ketukan pada pintu rumahnya. Ternyata ada seorang pengemis sedang berdiri mengharap belas kasihan.

Lelaki itu pun keluar dan menghardik pengemis tersebut. Mengganggu saja, mungkin itu yang ada di benaknya. Allahul musta’an.

Tak berselang lama usai kejadian itu, lelaki kaya tersebut berubah menjadi miskin. Tak hanya itu, dia juga menceraikan istrinya.

Demikian berat apa yang dialami wanita itu. Perjalanan rumah tangganya terhenti di persimpangan jalan. Namun begitulah hidup. Di kemudian hari, wanita tadi menikah dengan lelaki lain.

Memang tidak mudah untuk memulai hari yang baru. Apalagi saat kemarin kita gagal meraih salah satu impian. Bukan hanya sekedar semangat, namun dibutuhkan tekad baja agar tidak terjebak dalam keputusasaan.

Tidak semua kesenangan hidup yang dirasakan, menunjukkan keridhaan Allah. Demikian pula sebaliknya, kesedihan hidup bukan berarti Allah itu murka. Semuanya merupakan ujian yang datang dari-Nya.

Wanita itupun melanjutkan fase kehidupannya bersama suaminya yang baru. Suka duka menjadi garam yang menghiasi rumah tangganya.

Pada suatu hari, suami istri ini sedang menikmati sajian ayam bakar. Ternyata pintu rumah mereka diketuk oleh seorang pengemis.

Sang suami kemudian menyuruh istrinya,
ناوليه الدجاجة…

“kasih untuknya daging ayam itu!”

Ketika sang istri keluar hendak memberikan ayam bakar tersebut, dia sangat terkejut. Betapa lisannya tak mampu mengeluarkan kata-kata. Hatinya demikian tersentak bak genangan air yang riuh oleh debur ombak.

Dengan sisa tenaga yang dimiliki, dia pun menyerahkan ayam yang dibawanya, lalu kembali masuk dengan menitikkan air mata. Wanita ini menangis tersedu-sedu.

Sang suami yang dermawan ini pun keheranan dan menanyakan perihal tangisan istrinya.

Maka wanita itu menceritakan bahwa pengemis tadi adalah mantan suaminya yang pertama. Sang istri juga mengisahkan kejadian yang pernah dilakukan oleh mantan suaminya ketika menghardik seorang pengemis.

Terkejut mendengar penuturan istrinya, lelaki yang kini menjadi suami keduanya pun berkata,
والله، أنا ذلك السائل!
“Demi Alloh. Akulah si pengemis itu !”

Dalam riwayat lain,
و أنا -والله- ذلك المسكين الأول! خولني الله نعمته و أهله لقلة شكره.

“Dan aku – demi Alloh – adalah si miskin itu (yg dulu diusirnya). Alloh pindahkan kekayaan sekaligus istrinya untukku gara-gara dia kurang bersyukur.”

Subhanallah. Tidaklah Allah menamai diri-Nya dengan al-Hakim -Dzat Yang Mahabijaksana- melainkan karena semua ketentuan-Nya penuh hikmah. Demikian samarnya maksud terjadinya musibah yang menimpa manusia hingga membutuhkan renungan yang lama dan pandangan yang seksama.

Demikianlah, hidup ini terus bergulir. Hari ini, kita menangis. Esok hari, kita tertawa. Adakalanya air hujan membasahi permukaan bumi, adakala tanah terpancar terik matahari. Ada kebersamaan, ada pula perpisahan. Natawakkal ‘alallah ‘azza wa jalla.

📘 وفيات الأعيان [١٠٨/٦]
📘 المستطرف [٢٧/١]

Dikopas dari tulisan salah satu asatidzah kita di grup Thullab Takhassus Jember Qudama.

@Forum_ilmiyahKarangAnyar

Masalah Istri Keluar Rumah Ikut Suaminya Berdakwah


Ada sekelompok orang dari kalangan da’i biasa keluar berdakwah ke kota lain di waktu-waktu tertentu. Safar dakwahnya tersebut terkadang sampai berhari-hari atau sampai sepekan. Mereka mengajarkan kaum muslimin tentang perkara agama mereka, di mana kaum lelakinya bermajelis di salah satu masjid sedangkan para wanitanya mendengarkan ta’lim dengan bermajelis di rumah salah seorang mereka. Apakah disenangi bagi wanita ikut keluar berdakwah (menyertai suaminya)? Padahal dengan keluarnya tersebut, ia harus meninggalkan anak-anaknya dengan dititipkan pada salah seorang kerabatnya? Continue reading →

Larangan Mendatangi Istri di Malam Hari


Dari Ibnu ‘Abbas dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian mengetuk pintu para wanita (istri-istri) pada waktu malam hari.”

Berkata (Ibnu ‘Abbas): “Dan pada suatu saat Rasulullah (pernah) pulang dalam keadaan berkafilah, kemudian berjalanlah dua orang bersembunyi-sembunyi pulang kepada istrinya masing-masing, maka kedua orang tersebut mendapatkan seorang pria sedang bersama dengan istrinya.” (Sunan Ad-Darimiy no.444; lihat juga hadits yang mirip dengan ini dalam Shahiih Al-Bukhaariy no.1800 & 1801, Shahiih Muslim no.1928; Al-Mu’jamul Kabiir, Ath-Thabraniy no.11626; Al-Mustadrak, Al-Hakim no.7798 dari ‘Abdullah bin Rawahah; Sunan Ad-Darimiy no.445 dari Sa’id bin Al-Musayyab, pent.)

Berkata Al-Imam An-Nawawiy: “Adapun bila safarnya dekat, istrinya pun mengharapkan kedatangannya pada malam hari, maka pulang malam pun boleh. Begitu pula apabila telah ada informasi awal (melalui telpon, surat atau lainnya, pent.) yang memberitahu akan kedatangannya kepada istri dan keluarganya, hal ini pun tidak mengapa.” (Syarh Shahiih Muslim 13/71-72, lihat Dhiyaa`us Saalikiin fii Ahkaam wa Aadaabil Musaafiriin, Asy-Syaikh Yahya Al-Hajuriy)

Pembahasan selengkapnya bisa dibaca di: http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=730