Kedudukan Jesus dalam Islam (3)


Kedudukan Jesus Kristus Dalam Islam (3) – Ketinggian Yesus di dalam Islam

Oleh: Asy Syaikh DR. Rabi’ bin Hadi Al Madkhali


Sesungguhnya nabi yang mulia ini mempunyai kedudukan yang tinggi di dalam Islam yang tidak diketahui atau pura-pura tidak diketahui oleh umat Yahudi dan Kristiani di dalam realitas, keyakinan dan tulisan-tulisan mereka.

Islam melakukan hal tersebut dan menetapkannya dengan ketetapan yang paling utama, paling mulia dan paling obyektif di dalam banyak ayat yang mulia. Akal yang sehat akan menerima ketetapan Islam saja dan akan menolak apa yang ditetapkan oleh orang-orang Yahudi berupa tuduhan dan celaan terhadap beliau, serta apa yang ditetapkan oleh orang-orang Kristen berupa perbuatan melampaui batas dan menuhankan beliau; terkadang mengatakan sebagai anak Allah, terkadang menyebutkan sebagai Allah atau satu di antara yang tiga (trinitas) dan terkadang meremehkan dan menghinakan beliau, yang menunjukkan atas kebingungan dan kesesatan agama dan akal mereka.

Sungguh Allah telah menceritakan dengan kisah yang indah nan mempesona tentang ‘Isa (Yesus) dan ibu beliau dari awal kehidupan beliau berdua diikuti dengan kisah tentang fase-fase kehidupan beliau berdua dengan sangat jelas dan penuh dengan penghormatan. Maka orang-orang yang beriman dari para pengikut Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengimani hal tersebut dan menghormati dan memuliakan beliau dengan penghormatan dan pemuliaan yang sesungguhnya sebagaimana mereka menghormati dan beriman kepada para nabi dan rasul lainnya.

Lebih dari itu, Islam bahkan menetapkan bahwa beriman kepada mereka adalah merupakan satu rukun yang besar dari rukun-rukun Islam. Barangsiapa menghina salah seorang dari mereka, maka dia telah kafir dan keluar dari agama Islam. Maka bagaimana dengan orang yang mendustakan mereka atau salah seorang dari mereka?
Sungguh Allah telah menyanjung ‘Isa dan ibunya yaitu Maryam (Maria) yang suci dalam banyak surat dari Al Qur’an. Kami akan sebutkan sebagiannya, di antaranya Allah subhanahu wata’ala berfirman di dalam surat Ali ‘Imran:

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ *ذُرِّيَّةً بَعْضُهَا مِنْ بَعْضٍ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ *إِذْ قَالَتِ امْرَأَةُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ *فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنْثَى وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالأنْثَى وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ *فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ وَأَنْبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَذَا قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ *هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), (sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (turunan) dari yang lain. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (Ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”. Maka tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: “Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai Dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk.” Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab. Di sanalah Zakariya mendoa kepada Tuhannya seraya berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa”. (Ali Imran: 33-38)

Maka Allah memulai kisah Maryam dengan ikatan yang besar yaitu dengan orang-orang yang dipilih oleh Allah melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing). Di antara mereka adalah keluarga ‘Imran nenek moyang Maryam. Ikatan ini adalah untuk menjelaskan bahwa Maryam berasal dari keluarga yang mulia dan berasal dari keturunan para nabi pilihan. Ibunya adalah wanita yang saleh.

Di antara bentuk kesalehannya adalah dia bernazar kepada Allah (agar) anak yang dalam kandungannya menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat di baitul Maqdis. Dia berkeinginan agar anaknya laki-laki, ternyata yang dilahirkan adalah anak perempuan. Maka diapun mengembalikan urusannya kepada Allah dengan mengemukakan alasan kepada-Nya memintakan perlindungan untuk putri dari keturunannya dari syaitan yang terkutuk maka Allah mengabulkan doanya, menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan menjadikan nabi yang mulia dan penyayang yaitu Zakariya ‘alaihissalam sebagai pemeliharanya. Ini adalah penjagaan yang agung dan sebutan yang mulia untuk ibunda ‘Isa.

Allah menambahkan keutamaan dan kemuliaan kepada Maryam. Hal itu disebutkan oleh Allah subhanahu wata’ala dengan firmannya:

وَإِذْ قَالَتِ الْمَلائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفَاكِ عَلَى نِسَاءِ الْعَالَمِينَ *يَا مَرْيَمُ اقْنُتِي لِرَبِّكِ وَاسْجُدِي وَارْكَعِي مَعَ الرَّاكِعِينَ * ذَلِكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهِ إِلَيْكَ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ يُلْقُونَ أَقْلامَهُمْ أَيُّهُمْ يَكْفُلُ مَرْيَمَ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ يَخْتَصِمُونَ

“Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: “Hai Maryam, Sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu). Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’. Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); Padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa.” (Ali Imran: 42-44)

Maka Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam -nabi yang tidak bisa membaca tulisan- juga kaum beliau tidaklah mengetahui tentang berita agung dan benar mengenai seluruh para nabi; tidak juga tentang Maryam dan ibunya, Zakariya dan orang yang bersengketa di dalam memelihara Maryam. Juga tentang kemenangan Zakariya untuk memelihara Maryam setelah diadakan undian dengan anak-anak panah. Juga tentang penghormatan yang diberikan Zakariya kepadanya, serta tentang datangnya rizki dari Allah untuk Maryam sebagai bentuk pemuliaan terhadapnya yang mendorong Zakariya – dalam keadaan usia tua dan mandul istrinya – untuk memohon keturunan yang baik dari Allah; Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan kaum beliau tidak mengetahui hal ini.

Dan tidak mungkin Anda dapati perkataan yang tinggi dengan keagungan, kefasihan, susunan yang baik dan penyampaian yang menarik seperti ini di dalam Injil dan lainnya. Hal ini menunjukkan tentang kebenaran Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau adalah benar-benar utusan Allah, tiadalah yang diucapkan itu menurut kemauan hawa nafsunya; ucapannya tidak lain kecuali wahyu yang diwahyukan kepada beliau dari Rabb semesta alam.

Kemudian Allah melanjutkan kisah Maryam yang suci dan puteranya yaitu ‘Isa hamba dan rasul Allah Shallallahu ‘alaihi wa ‘ala nabiyyina wa saairi al-anbiya’ wa sallama tasliman katsira dengan firmannya:

إِذْ قَالَتِ الْمَلائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٍ مِنْهُ اسْمُهُ الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَجِيهًا فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبِينَ *وَيُكَلِّمُ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ وَكَهْلا وَمِنَ الصَّالِحِينَ *قَالَتْ رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لِي وَلَدٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ قَالَ كَذَلِكِ اللَّهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ إِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ *وَيُعَلِّمُهُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرَاةَ وَالإنْجِيلَ *وَرَسُولا إِلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنِّي قَدْ جِئْتُكُمْ بِآيَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ أَنِّي أَخْلُقُ لَكُمْ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ فَأَنْفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِ اللَّهِ وَأُبْرِئُ الأكْمَهَ وَالأبْرَصَ وَأُحْيِي الْمَوْتَى بِإِذْنِ اللَّهِ وَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا تَأْكُلُونَ وَمَا تَدَّخِرُونَ فِي بُيُوتِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ * وَمُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَلأحِلَّ لَكُمْ بَعْضَ الَّذِي حُرِّمَ عَلَيْكُمْ وَجِئْتُكُمْ بِآيَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ *إِنَّ اللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ

(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: “Hai Maryam, seungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan Termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah). Dan Dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan Dia adalah Termasuk orang-orang yang saleh.” Maryam berkata: “Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, Padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun.” Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, Maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: “Jadilah”, lalu jadilah Dia. Dan Allah akan mengajarkan kepadanya Al Kitab, hikmah, Taurat dan Injil. Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka): “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, Yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, Maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu Makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman. Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu, dan aku datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mukjizat) daripada Tuhanmu. karena itu bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus”. (Ali Imran: 45-51)

Inilah kisah tentang awal urusan ‘Isa ‘alaihissalam, cara Allah menciptakannya, tentang risalahnya kepada bani Isra’il, kemuliaan yang diberikan Allah kepadanya berupa karakteristik agung yang menunjukkan kebenaran risalahnya dan juga tentang berlepasnya dia dan ibunya dari tuduhan keji orang-orang Yahudi. Apabila merupakan ketentuan Allah yang berlaku di kalangan makhluk dari kalangan manusia dan binatang; bahwa sempurnanya reproduksi adalah melalui jalan dua orang tua laki-laki dan perempuan, maka sesungguhnya telah mendahului yang demikian bahwasanya Allah telah menciptakan Adam dari tanah dengan tanpa dua orang tua dan telah menciptakan ibunya manusia yaitu Hawa dari tulang rusuk Adam.

Itu semua adalah merupakan ayat-ayat Allah yang agung dan tidak ada sesuatu pun yang bisa melepaskan diri (dari kekuasaan) Allah di bumi dan di langit. Demikian pula di zaman ini dari umur manusia, Allah berkehendak untuk memperlihatkan satu ayat baru dari ayat-ayat yang menunjukkan kebesaran kekuasaan-Nya; yaitu menciptakan ‘Isa ‘alaihissalam dari seorang perempuan tanpa laki-laki. Sungguh Maryam ‘alaihissalam merasa heran dengan perkara yang aneh dan berita yang asing ini. Maka malaikat Jibril berkata kepadanya:

كَذَلِكِ اللَّهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ إِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

“Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, Maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: “Jadilah”, lalu jadilah Dia.”

Maka setiap makhluk yang besar maupun yang kecil; ‘arsy, kursi, langit, bumi, gunung, lautan dengan isinya, makrocosmos berupa matahari, bulan dan bintang semuanya terjadi dengan keinginan dan kehendak Allah serta dengan firman-Nya: kun (jadilah). Maka Maha Suci Rabb yang Maha Agung, Maha Mampu, Maha Berkuasa tidak ada sesuatupun yang bisa mengalahkan dan mengungguli kekuasaan-Nya serta tidak ada sedikitpun sekuru dalam kekuasaan-Nya. Apa yang Dia kehendaki pasti terjadi dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi.

Sesungguhnya kemuliaan yang diberikan Allah kepada ‘Isa ‘alaihissalam berupa ilmu, hikmah, risalah dan ayat-ayat yang agung adalah merupakan kemuliaan yang diberikan kepada seluruh para nabi dan rasul, sedangkan keadaan ‘Isa dicipta dengan firman Allah: kun (jadilah) dari seorang perempuan saja adalah termasuk ayat-ayat-Nya yang menunjukkan akan kemampuan-Nya yang telah didahului dengan perkara yang lebih besar lagi yaitu diciptakannya Adam ‘alaihissalam tanpa laki-laki dan perempuan dan diciptakannya Hawa dari tulang rusuk Adam tanpa adanya Perempuan.

Semua itu menunjukkan atas Maha Besarnya Allah dan Maha Mampu-Nya menurut kaum mu’minin yang berakal serta mendorong mereka untuk bersyukur kepada Allah, mencintai, mengagungkan, mensucikan, dan mengikhlaskan ibadah serta agama hanya untuk-Nya saja. Orang yang paling tahu tentang masalah ini, yang melaksanakan, dan mendakwahkannya adalah para nabi yang mulia yang ditokohi oleh ulul ‘azmi di antaranya adalah ‘Isa – ‘alaihim jami’an afdhalu ash-shalawat wa atammu at-taslim – sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur’an dan (dijelaskan juga) sebelumnya di dalam wahyu yang terjaga sebelum adanya perubahan dari nash-nash Injil; ‘Isa telah menerangkan bahwa dia adalah hamba Allah yang diciptakan dan dipelihara, dan sesungguhnya Allah adalah Rabb-nya, sayyidnya, Penciptanya, Rabb seluruh makhluk, Sayyid dan Penguasa mereka. Pertama kali ‘Isa menetapkan ini semua kemudian menyeru mereka untuk beribadah kepada Rabb yang Maha Agung, Sayyid, Pencipta segala sesuatu dan Penguasa segala sesuatu. ‘Isa ‘alaihissalam berkata:

إِنَّ اللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ

“Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus.”

Sebelumnya dia mengatakan:
فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ
“Karena itu bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.”

Maka Allah sajalah yang ditakuti dan disegani, dan para nabi, di antaranya ‘Isa menyeru kepada hal ini, mereka ditolong oleh Allah dengan ayat-ayat berupa mu’jizat yang jelas dan bukti-bukti tentang kebenaran mereka. Maka tidak ada kewajiban bagi manusia setelah keterangan ini kecuali harus menyambut dakwah para rasul dan mentaati apa yang mereka sampaikan dari Allah berupa wahyu yang berisi perintah untuk mentauhidkan Allah dan mengikhlaskan ibadah hanya untuk-Nya.

Pelajaran yang diambil dari nash-nash ini adalah bahwa ‘Isa ‘alaihissalam dan para nabi lainnya memiliki kedudukan yang agung di dalam Islam. Dalam nash-nash tersebut juga terdapat pelajaran tentang penciptaan ‘Isa dan ibunya yang berada di atas puncak kesucian dan berasal dari keluarga yang sangat kokoh di dalam Islam dan kesucian. Di dalam nash-nash tersebut juga disebutkan tentang risalah, ayat-ayat dan dakwah beliau untuk beriman dengan rububiyyah Allah, beribadah, takut, dan bertakwa kepada-Nya. Sebagaimana Allah menceritakan tentang Adam dan seluruh para rasul, perjalanan hidup, akhlak dan dakwah mereka – ‘alaihissalam –; merupakan berita yang benar tidak ada padanya takhayul dan ghuluw (melampaui batas). Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para pengikut beliau beriman, mencintai, menghormati, dan memuliakan para nabi – di antaranya adalah ‘Isa ‘alaihissalam – dari dalam relung hati mereka. Dan menganggapnya sebagai pokok ajaran agama mereka.

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan Kami taat.” (mereka berdoa): “Ampunilah Kami Ya Tuhan Kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.” (Al Baqarah: 285)

-bersambung ke bagian 4-

(Silakan disebarluaskan untuk kepentingan dakwah Islam kepada umat manusia seluruhnya dengan mencantumkan URL: www.ulamasunnah.wordpress.com).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 100 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: