Pelajaran Terbesar dari Al-Qur’an


Pelajaran Terbesar Dari Al Qur’an

Penulis Al Ustadz Muhammad Yahya

Tidak ada keraguan bahwa ALLAH Ta’ala telah menurunkan Al Qur’an sebagai penjelas segala sesuatu dan bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan Al Qur’an dengan penjelasan yang sempurna. Dan masalah terbesar yang dijelaskan di dalam Al Qur’an adalah masalah tauhid dan syirik. Tauhid adalah dasar Islam dan pondasi agama, yang dibangun di atasnya seluruh amal perbuatan. Sementara syirik adalah pembatal dasar Islam ini dan perusaknya, hingga mampu menghilangkannya sama sekali. Keduanya adalah dua hal yang saling bertolak belakang, bertentangan dan tidak akan berkumpul selama-lamanya. Oleh sebab itu, ALLAH Ta’ala menjelaskan dasar Islam ini di dalam seluruh isi Al Qur’an. Tidaklah ada satu surat-pun, melainkan terdapat padanya penyebutan perintah untuk bertauhid dan larangan berbuat syirik.

Banyak kita dapati manusia yang membaca Al Qur’an –walhamdulilah- tetapi sedikit sekali yang menaruh perhatian terhadap masalah ini. Oleh sebab itu, kita dapati banyak manusia yang membaca Al Qur’an sementara mereka terjatuh ke dalam jurang kesyirikan yang merusak tauhidnya. Padahal perkaranya telah jelas di dalam Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Mengapa demikian ? Sebab, kebanyakan mereka berjalan di atas adat istiadat yang diajarkan secara turun-menurun oleh kakek-moyang mereka. Prinsip mereka adalah bagaimana menjalankan ajaran kakek-moyang tersebut. Jarang terlintas untuk memahami kandungan ajaran Al Qur’an untuk selanjutnya mengukur amal perbuatan dengan Al Qur’an, apakah sudah sesuai dengannya ataukah belum. Bahkan, realitanya adalah adanya anggapan bahwa Al Qur’an hanya dibaca untuk diambil berkahnya dan mendapatkan pahala dengan membacanya saja. Bukanlah dimaksudkan dari memahami Al Qur’an itu untuk diterapkan dalam kehidupan.

Adapun membaca Al Qur’an untuk diamalkan dan membandingkan amal perbuatan manusia untuk disesuaikan dengan ajaran Al Qur’an, maka yang demikian ini tidaklah dijumpai melainkan pada minoritas manusia. Tidaklah kita katakan bahwa yang demikian itu tidak ada, akan tetapi sedikit sekali orang yang melakukannya. Oleh sebab itu, kita dapati Al Qur’an berada pada satu lembah sementara amal perbuatan kebanyakan manusia berada pada lembah yang lain. Mereka tidak berpikir untuk merubah amalnnya dengan menyesuaikan dengan ajaran Al Qur’an sama sekali.

Maka, seandainya ada seseorang yang menyeru, mengajak mereka untuk kembali kepada Al Qur’an -dengan tulus karena ALLAH-, dalam rangka mengadakan pencerahan dan penyelarasan amal perbuatan sesuai dengan Al Qur’an dan As-Sunnah, niscaya mereka akan berdiri di hadapannya dan menuduhnya telah sesat kemudian mengancamnya. Akan tetapi pada hakekatnya, ancaman tersebut tidaklah membahayakannya dan yang demikian tidaklah lagi asing . Sebab para Nabi dahulu -saat berusaha meluruskan kembali amal perbuatan umatnya- mendapatkan ancaman bahkan yang lebih dahsyat.

Yang demikian itu (-ancaman dan tuduhan-tuduhan yang tidak benar- ed) tidaklah mengurangi keutamaan seorang da’i, bahkan dapat menambah kebaikan-kebaikannya di sisi ALLAH Ta’ala. Justru kerendahan dan kehinaan akan menimpa orang yang mengancamnya dan merendahkannya. Sedangkan para Ulama’ dan para penyeru di jalan ALLAH tidaklah mendapatkan kehinaan tersebut, bahkan mereka mendapatkan pahala yang besar di sisi ALLAH Ta’ala. Mereka memiliki teladan para Nabi, sebagaimana ALLAH SWT telah berfirman :

(Artinya : Tidaklah yang dikatakan (-orang-orang kafir-) kepadamu itu selain apa yang sesungguhnya telah dikatakan kepada rasul-rasul sebelum kamu. Sesungguhnya Rabb-mu benar-benar mempunyai ampunan dan hukuman yang pedih.) (Fushilat : 43)

Syaikhul-Islam menjelaskan -dalam kitabnya- tentang realita menakjubkan , di mana banyak manusia yang membaca Al Qur’an, mengkhatamkannya, menghafalnya, dan membacanya dengan tajwid yang baik -dari satu sisi yang demikian ini baik, walhamdulillah-, akan tetapi yang paling penting bukanlah ini. Yang paling penting adalah mempelajarinya, memahami maknanya, dan membandingkan amalan kita dengannya -apakah sudah sesuai ataukah belum-!

Inilah yang diinginkan, yaitu bahwa kita harus menyelaraskan amal perbuatan kita dengan Al Qur’an dan As-Sunnah serta memberikan peringatan atas kesalahan-kesalahan manusia -bukan dalam rangka ingin tersohor dan menang-menangan, akan tetapi -dalam rangka mengadakan perbaikan dan memberikan nasehat.

Di antara dasar-dasar agama yang terdapat dalam Al Qur’an adalah mengikhlashkan agama hanya untuk ALLAH semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Ini adalah dasar utama dan pondasi agama. Karenanya terjadi pertentangan antara para Nabi dengan umat mereka. Bukanlah yang terpenting seseorang itu shalat, puasa, dan memperbanyak ibadah, akan tetapi yang terpenting adalah ikhlash. Sedikit amal dengan ikhlash lebih baik daripada banyak amal tanpa ikhlash. Seandainya seseorang shalat siang malam, bersedekah, dan beramal kebajikan lainnya namun tanpa disertai dengan ikhlash, maka amalanya tidak ada manfaatnya sama sekali. Dan makna ikhlash itu adalah meninggalkan kesyirikan dan mengesakan ALLAH Ta’ala dalam beribadah kepada-Nya. Tidak ada satu-pun selain ALLAH yang berhak diibadahi -betapapun tinggi kedudukannya, malaikat atau nabikah, apalagi orang-orang yang derajatnya di bawah mereka-. Inilah dasar yang utama. Dan ikhlash tidak dapat direalisasikan, melainkan dengan meninggalkan kesyirikan. Sedangkan orang yang mencampuradukkan ibadahnya kepada ALLAH dengan yang kepada selain-Nya, maka amalannya rusak binasa.

(Artinya : Seandainya mereka mempersekutukan ALLAH, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.) (Al An’am : 88)

Adapun orang yang memurnikan ibadahnya hanya untuk ALLAH Ta’ala, maka dialah orang yang berbahagia, walaupun amal ibadahnya sedikit. Sedikit amal dengan ikhlash adalah kebaikan dan keselamatan. Dalilnya adalah hadits bithaqah yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, di mana ada seseorang yang dibangkitkan di hari kiamat, kemudian ditunjukkan kepadanya seluruh amal ibadahnya di dunia yang seluruhnya tercatat dalam lembaran-lembaran. Setiap lembarnya seluas mata memandang. Semuanya berisi catatan amal kejelekan. Maka lembaran-lembaran tersebut diletakkan pada salah satu anak timbangan. Sementara pada anak timbangan lainnya diletakkan kartu yang bertuliskan Laa ilaaha illallaah -yang pernah dia ucapkan dari lubuk hatinya dengan ikhlash dan penuh keyakinan-. Maka lebih beratlah kalimat tersebut dibanding dengan seluruh lembaran tadi. Inilah ikhlash. Tidaklah hanya sekedar di dalam ucapan saja, akan tetapi di ucapkannya dalam keadaan dipahami maknanya dan diyakini kandungannya. Namun orang tersebut meninggal dunia sebelum bisa beramal. Maka bagaimana dengan orang yang memiliki banyak amal shalih yang dikerjakannya dengan ikhlash karena mengharap wajah ALLAH Ta’ala ?! Pada hadits tersebut terdapat dalil, bahwa walaupun amalan sedikit – namun dilakukan dengan ikhlash, ALLAH Ta’ala akan menyelamatkan pelakunya dan menghapus seluruh dosa-dosanya.

Lawan ikhlash adalah kesyirikan. Tauhid adalah mengesakan ALLAH dalam beribadah kepada-Nya, sementara syirik adalah memalingkan satu macam dari macam-macam ibadah -seperti doa, penyembelihan, nadzar, istighatsah, dan sebagainya- kepada selain Allah Ta’ala. Dan syirik yang dimaksud di sini adalah syirik dalam perkara uluhiyah, sedangkan syirik pada perkara rububiyah pada umumnya tidak terjadi. Karena seluruh umat manusia pasti mengakui tauhid rububiyah. Tidak ada yang menentangnya kecuali orang yang tampak mengingkarinya, padahal sesungguhnya dia mengakuinya dalam batinnya. Seluruhnya mengakui bahwa alam ini pasti ada penciptanya. Berbagai keteraturan alam ini pasti ada pengaturnya. Semuanya tidaklah terwujud dengan sendirinya dan secara tiba-tiba ada. ALLAH Ta’ala berfirman :

(Artinya : Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu?; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan) ( At-Thur : 35-36)

Dan pengakuan terhadap tauhid rububiyah merupakan keniscayaan dan sesuai fitrah, akan tetapi hal ini tidak cukup. Dan tidaklah pengakuan kaum musyrikin terhadap tauhid rububiyah ini menjadikan mereka sebagai muslimin. Al Qur’an tegas menyebutkannya:

(Artinya : Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”.) ( Az-Zukhruf : 87)

Ini adalah pengakuan terhadap tauhid rububiyah. Adapun yang dituntut adalah tauhid uluhiyah. Karenanya, terjadi perselisihan dan permusuhan antara para Nabi dengan umat mereka, antara penyeru di jalan-ALLAH dan manusia pada umumnya, yang karenanya terjadilah pertikaian, peperangan, serta sikap loyal atau antipati.

Sesungguhnya mayoritas kandungan Al Qur’an berisi tentang penjelasan dasar utama ini dalam berbagai bentuknya, dengan ungkapan-ungkapan yang dapat dipahami oleh manusia yang paling rendah tingkat kecerdasannya sekalipun. ALLAH Ta’ala berfirman:

(Artinya: Sembahlah ALLAH dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.) (An-Nisaa’ : 36)

Apakah ada yang tidak jelas pada ungkapan ini ? Orang-orang awam pun dapat memahaminya. Mereka paham bahwa ayat ini memerintahkan untuk beribadah dan larangan berbuat syirik. Walaupun mereka tidak belajar, mereka paham dengan bahasa mereka. Ini baru satu ayat. Sementara Al Qur’an dipenuhi dengan ungkapan-ungkapan yang gamblang seperti ini.

Ayat-ayat semacam ini, mereka lewati saat membaca Al Qur’an dan bahkan mereka ulang-ulangi, akan tetapi mengapa mereka tidak memikirkannya ?! Di mana ALLAH berfirman :

(Artinya: Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.)( An-Nisaa’ : 36)

Sementara sebagian mereka menyeru dan meminta : “Wahai Ali! wahai Husain! wahai Badawi! wahai Tijani! wahai Abdul Qadir! wahai Abuya!” dll. Mereka memanggil nama-nama tersebut dan meminta kepada mereka, sementara yang mereka panggil adalah orang yang sudah meninggal dunia !!! Dan orang -yang memanggil-manggil nama-nama tadi- tersebut terkadang telah hafal Al Qur’an dan mampu membacanya dengan baik. Innaa lillaahi wa innaa ilahi raaji’un.

Al Imam Ibnul Qayyim berkata : “Al Qur’an seluruhnya berbicara tentang tauhid, sebab di dalamnya terkandung :

  • Perintah untuk beribadah hanya kepada ALLAH Ta’ala dan menjauhi syirik,
  • Penjelasan tentang balasan terhadap ahli tauhid dan balasan terhadap ahli syirik,
  • Penjelasan tentang berbagai hukum halal dan haram, dan ini adalah hak-hak tauhid,
  • Kisah-kisah para rasul dan umat mereka, dan permusuhan di antara mereka.

Maka Al Qur’an, seluruhnya adalah tauhid, dari awal hingga akhir. Bersamaan dengan itu banyak orang yang membacanya, sementara mereka terjatuh ke dalam kubang kesyirikan. Mereka mengucapkan Laa ilaaha illallaah, tetapi tidak mengamalkan kandungannya. Mereka berada pada satu lembah, sementara Laa ilaaha illallaah berada pada lembah yang lain. Kalimat tersebut hanya sebagai pemanis di bibir saja.

Sungguh masih banyak kita dapati orang-orang datang ke kuburan meminta kepada penghuninya, orang-orang yang memberikan sesaji kepada pohon-pohon, senjata pusaka, laut, sapi, dan sebagainya yang dikeramatkan, praktek perdukunan, sihir, dan lain sebagainya. ALLAH berfirman tentang permisalan orang-orang kafir :

(Artinya : Dan perumpamaan (orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti.)( Al Baqarah : 171)

Di dalam ayat ini ALLAH menyerupakan mereka dengan binatang ternak yang hanya mendengar suara penggembala dan penghela dan hanya berjalan sesuai dengan suara mereka tanpa memahami maknanya.

Jika dikatakan kepada mereka : “Janganlah kalian meminta dan beristighatsah kepada makhluk. Minta dan beristighatsahlah kepada ALLAH saja. Menghadaplah kepada ALLAH, dan jangan menghadap kepada kuburan dan penghuninya!” Mereka akan mengatakan : “Anda telah merendahkan para wali. Mereka adalah para wali. Kedudukan mereka yang tinggi di sisi kami mengharuskan kami memuliakan dan menyebut nama-nama mereka. Inilah kedudukan mereka. Maka anda telah merendahkan mereka dengan seruan tersebut dan tidak mengakui kedudukan mereka.” Maka kita katakan : “Kami mencintai orang-rang shalih dan kami mencintai wali-wali ALLAH. Kami loyal kepada mereka, memuliakan, dan menghargai mereka. Akan tetapi kami tidak akan memberikan sedikitpun kepada mereka hak peribadatan yang hanya milik ALLAH Azza Wa Jalla. Sebab, yang demikian ini bukanlah hak mereka. Itu adalah hak ALLAH. Dan orang-orang shalih itu-pun tidak ridha jika hak tersebut diberikan kepada mereka. Mereka juga tidak ridha untuk dimintai bersama ALLAH Ta’ala.”

Menurut mereka bahwa istighatsah dan permohonan mereka -kepada orang-orang shalih yang sudah meninggal- adalah pengakuan kepada kemuliaan para wali. Ini adalah perangkap setan dari kalangan jin dan manusia.

Dengan penjelasan ini mudah-mudahan kita dapat memetiknya dan mengambil manfaatnya serta menerapkannya di dalam kehidupan kita, sehingga kita dapat selamat dari jeratan-jeratan setan dan tetap berada di atas bimbingan ALLAH dan Rasul-Nya.

Buletin Jum’at Risalah Tauhid -Depok- edisi 85, url http://mimbarislami.or.id/?module=artikel&action=detail&arid=123

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 103 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: