Bagaimana Hukum Bekerja di Bank?


Tanya: Assalamu ‘alaikum, saya mau bertanya berkaitan dengan masalah yang saya hadapi.
1. Bagaimana hukumnya bekerja di bank konvensional. Apakah boleh? Bagaimana juga hukum gajinya? Dan sebaiknya bagaimana jika telah bekerja di bank jika banknya adalah bank syariah atau bank konvensional yang juga menyediakan layanan syari’ah?
2. Bagaimana hukum sholat jama’ taqdim Zhuhur Ashr, sedang sholat awalnya adalah sholat Jum’at? (hari yudhotomo, yud…@student.undip.ac.id)

Jawab: Wa ‘alaikumussalaam warahmatullah.
1. Bank konvensional atau bank-bank sejenisnya yang mu’amalahnya ribawi meski berlabelkan syariah, sebaiknya dijauhi, bekerja di dalamnya haram dan gajinya pun haram. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat orang yang memakan harta riba dan melaknat orang yang memberinya. (HR Muslim dari Ibnu Mas’ud RA). Dalam riwayat lain ada tambahannya: saksinya dan penulisnya. (HR Tirmidzi). Ancaman bagi pemakan riba juga sangat keras sebagaimana diterangkan oleh Allah ta’ala dalam firmanNya QS Al Baqoroh: 275-278. Bila telah bekerja di dalamnya maka segera keluar dan bertaubat kepada Allah. Allah ta’ala tidak menjadikan harta haram sebagai rizki yang boleh untuk digunakan, jangan khawatir tidak akan mendapatkan pekerjaan lain, sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, Dia akan menggantinya dengan yang lebih baik darinya.” (HR Muslim dari Abu Sa’id Al Khudri).

2. Sebagian ulama, seperti Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin -semoga Allah merahmatinya- berpendapat bahwa Jum’at adalah sholat mustakillah (tersendiri). Karenanya, tidak boleh menjamak sholat Ashr dengannya, -yakni bila seseorang bepergian/musafir kemudian lewat di satu daerah, lalu sholat Jum’at bersama penduduknya, maka tidak boleh baginya menjamak sholat Ashr dengannya (Jum’at)-, dan sunnah hanya menerangkan jamak antara Zhuhur dan Ashr, bukan Jum’at dan Ashr. (Lihat Syarhul Mumthi’: 4/572-573, Syarh Riyadhush Sholihin: 3/311).

Adapun kalangan ahlul ilmi lainnya, melihat bolehnya yang demikian itu, dengan alasan tidak ada dalil dan tak satupun dari kalangan sahabat yang menyatakan adanya pemilahan antara Jum’at dan sholat-sholat lainnya, lagi pula perkara ini dikembalikan kepada hukum asal, dimana boleh bagi yang musafir untuk menjamak dua sholat. (Lihat Ahkamul Musafirin, oleh Abu Abdirrahman Yahya bin Ali Al Hajuri). Dan yang kedua ini yang kami lihat lebih rajih (pendapat yang kuat). Wal ‘ilmu ‘indallah.

Satu Tanggapan

  1. Mau tanya,bagaimana hukumnya bekerja di departemen keuangan,seperti di direktorat pajak dsb?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 98 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: